Menu
Informasi tentang Kesehatan

Mencegah Obesitas | Guesehat

  • Bagikan

Punya anak dengan pipi I dan badan gemuk memang terlihat menggemaskan. Tetapi, terlalu gemuk yang dimulai dari anak-anak bukanlah hal yang bagus. Menurut Kemenkes, saat ini, 1 dari 3 orang dewasa dan 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun di Indonesia mengalami kelebihan berat badan yang mengarah pada kegemukan bahkan obesitas.

 

Obesitas bukan sekadar masalah penampilan lho! Ada bahaya serius di balik obesitas, salah satunya penyakit diabetes.

Obesitas adalah kondisi yang kompleks, yang memiliki dampak sosial dan psikologis yang serius. Obesitas ditemui di semua usia dan kelompok sosial-ekonomi dan dipandang sebagai ancaman baik di negara maju maupun berkembang. Kita perlu menjadikan obesitas sebagai prioritas kesehatan nasional. Ini memerlukan keterlibatan semua pihak,” jelas Ketua Bidang Organisasi Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD dalam webinar yang diadakan Novo Nordisk dalam rangka Hari Obesitas Sedunia 2022, Rabu (30/3).

 

Baca juga: Obesitas Saat Hamil, Wajar atau Tidak?

Kapan Seseorang Dinyatakan Obesitas?

World Health Organization (WHO) mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Biasanya mendiagnosis seseorang mengalami obesitas diukur menggunakan BMI (body mass index atau indeks masa tubuh (IMT)).

 

Nilai BMI antara orang Asia atau Indonesia dengan negara barat berbeda. Untuk orang Indonesia, BMI pada tingkatan 25 termasuk kategori berat badan berlebih, dan BMI lebih dari 27 dinyatakan sebagai obesitas.

 

Obesitas juga dinilai dari ukuran lingkar pinggang, atau dikenal dengan obesitas sentral. Obesitas sentral ini untuk menilai risiko berbagai penyakit yang disebabkan oleh obesitas. “Ukuran pinggang lebih dari 80 sentimeter untuk wanita dan lebih dari 90 sentimeter untuk pria meningkatkan risiko penyakit yang disebabkan oleh obesitas,” jelas dr. Dicky.

 

Jadi, lanjut dr. Dicky, obesitas tidak hanya masalah estetika, tetapi juga berkenaan dengan masalah kesehatan yang serius. Orang yang hidup dengan obesitas memiliki risiko lebih besar terhadap penyakit kronis lainnya.

 

Baca juga: Obesitas Pintu Masuk untuk Diabetes

 

Peran Diet dan Aktivitas Fisik dalam Mencegah dan Mengatasi Obesitas

Untuk mencegah dan mengatasi obesitas, diet memegang peranan penting. Diet yang biasa dilakukan sebagai bagian usaha untuk menurunkan berat badan, biasanya berfokus pada pembatasan energi untuk mengurangi berat badan.

 

Menurut dr. Cindiawaty J. Pudjiadi, MARS, MS. Sp.GK, mengendalikan berat badan tidak cukup dengan usaha mengurangi asupan makanan dan menambah aktivitas olahraga.

 

Kita juga harus memperhatikan apa yang kita makan, bukan hanya seberapa banyak yang kita makan. Mengurangi kalori yang efektif bukan hanya dengan sedikit makan dengan tujuan menekan asupan kalori serendah mungkin,” jelasnya.

 

Setelah diet, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik teratur. Menurut dr. Anita Suryani, Sp.KO, aktif secara fisik dipastikan dapat mencegah kelebihan berat badan dan obesitas. “Bentuk latihan yang dianjurkan adalah intensitas sedang dan sekitar 40 menit,” jelasnya.

 

Baca juga: Diet Enggak Berhasil? Bisa Jadi Tidak Cocok dengan Profil Genetikmu!
 

Tujuan pengobatan obesitas adalah mencegah risiko komplikasi yang yang disebabkannya. Pengobatan obesitas harus ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai dengan anjuran kesehatan. Intinya, Selan ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’, faktor pemicu obesitas juga perlu ditangani.

 

Orang dengan diabetes dianjurkan melakukan konsultasi dengan tim profesional kesehatan, tak hanya ahli diet, namun juga psikolog atau psikiater, untuk membantu memahami dan membuat perubahan dalam pola makan dan aktivitas sehari-hari.

 

Kamu bisa berkonsultasi seputar obesitas dan diabetes di chatbot WhatsApp TanyaGendis, yang dikembangkan Novo Nordisk. Chatbot TanyaGendis kini telah diperbarui dengan menambah kalkulator BMI sehingga Kamu dapat dengan mudah melakukan cek BMI melalui WhatsApp dan mengetahui apakah mereka memiliki kondisi kelebihan berat badan atau obesitas. Dengan melakukan cek BMI, mereka diharapkan dapat segera berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mencegah risiko yang mungkin terjadi di masa depan.

 

Gendis sendiri singkatan dari ‘ceGah & kENDali DIabetes dan obesitaS’. TanyaGendis dapat diakses melalui WhatsApp di 0812 8000 5858 dan memungkinkan masyarakat untuk dapat medeteksi risiko diabetes dan status BMI individu secara dini. TanyaGendis ini merupakan salah satu implementasi dari nota kesepahaman antar pemerintah (G2G MoU) antara Indonesia dan Denmark dalam kerja sama kesehatan.

 

Baca juga: Benarkah Makan Malam Bikin Gemuk?

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.