Menu
Informasi tentang Kesehatan

Cara Memantau Pertumbuhan Bayi Prematur

  • Bagikan

Bayi prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR) berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, yang jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat, berujung pada gagal tumbuh bahkan stunting. Tapi, Mums tidak perlu berkecil hati. Perawatan bayi prematur dan BBLR yang tepat akan bisa mendukung tumbuh kembang mereka seperti bayi-bayi yang lahir cukup bulan dan cukup berat badan saat lahir. Selain itu, mencegah gagal tumbuh dan stunting pada bayi prematur dan BBLR tidak sulit. Mau tahu caranya?

 

Baca juga: Dampak BBLR Jangka Panjang Terhadap Tumbuh Kembang Anak

 

Pengertian Bayi Prematur dan BBLR

Sebelumnya, Mums harus bisa membedakan antara bayi prematur dan BBLR. Dijelaskan Prof.dr. Rina Rohsiswatmo SpA(K), Konsultan Neonatologi, bayi pbrematur adalah bayi yang lahir sebelum waktunya, yakni kurang dari 37 minggu usia kehamilan. Karena lahir belum waktunya, biasanya berat badannya pun kurang. Sedangkan bayi berat lahir rendah (BBLR) bisa jadi ia lahir sudah cukup bulan, namun memang berat badannya kurang dari 2500 gram.

 

Indonesia menduduki peringkat ke-5 sebagai negara dengan kelahiran prematur terbanyak. Tahun 2018 ada 29,5% kelahiran prematur, atau 1 dari 4 bayi terlahir prematur. Sedangkan BBLR angkanya berkisar 6,2% di tahun 2018, namun di tahun 2020 sudah turun menjadi 3,1%, kemungkinan karena perbaikan gizi ibu hamil.

 

Apa kaitan bayi BBLR, baik yang lahir prematur maupun lahir cukup bulan, dengan stunting? “Ada penelitian di 137 negara berkembang, bahwa 32,5% kasus stunting disebabkan kelahiran prematur. Sedangkan penelitian di Indonesia, BBLR menyumbang 20% kasus stunting di Indonesia,”jelas Prof. RIna dalam acara Media Briefing Fresenius Kabi bertema “Peran Bayi Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada Angka Stunting di Indonesia”, Senin, 25 Juli 2022.

 

Baca juga: Merawat Bayi Prematur Agar Tumbuh Kembang Optimal

 

Apakah Semua Bayi Prematur dan Bayi BBLR akan Menjadi Stunting?

Penyebab BBLR biasanya dimulai dari masalah pertumbuhan janin sejak di dalam kandungan. Penyebab tersering adalah asupan gizi ibu hamil tidak maksimal sehingga janin pun tumbuh kecil.

 

“Tidak semua bayi prematur atau BBLR akan menjadi stunting jika ditangani dengan benar.  Memang benar bahwa bayi lahir prematur berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, gangguan kognitif, tantangan dalam akademik, dan gangguan perilaku. Karena itu perlu pemantauan pertumbuhan perkembangan post natal bayi prematur dengan ketat,” jelas Prof. Rina 

 

Bagaimana cara memantaunya? Dua puluh persen kasus stunting terjadi sejak kelahiran, 20% lainnya di 6 bulan pertama atau di periode ASI, 50% terjadi dalam usia 6-24 bulan, dan 10% terjadi di tahun ketiga.

 

Di masa-masa itulah para orang tua harus sangat ekstra waspada.  Bayi yang membutuhkan perawatan dan pemantauan adalah mereka yang berisiko tinggi meskipun tidak sakit, misalnya bayi yang butuh peningkatan berat badan, bayi yang butuh perawatan lanjutan untuk mencapai maturitas organ, dan lain-lain.

 

“Pemantauan dilakukan dengan cara pengukuran berat badan dan panjang badan, serta lingkar kepala. Kalau ke dokter anak, minta perawat mengukur berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala untuk diplot di buku KIA atau KMS,” lanjut Prof. Rina. 

 

Baca juga: Cara Menyusui Bayi Prematur

 

Cara Memantau Pertumbuhan Bayi Prematur atau BBLR

Menangani bayi prematur dan BBLR sangat kompleks dan itu menjadi wewenang tenaga kesehatan. Yang bisa dilakukan orang tua, lanjut Prof. RIna, adalah belajar membaca grafik pertumbuhan dengan benar. 

 

Menurut Prof. Rina, terkadang, para Mums terlalu khawatir dengan perkembangan anaknya dan menduga bayinya terlalu kurus atau kurang berat badan, hanya dari penampilan fisik saja. 

 

“Ada anak yang memang perawakannya kecil, jadi dia ada di garis kuning. Kalau dari awal ia ada di garis kuning atau di garis hitam maka pertumbuhannya harusnya tetap di garisnya, yang penting grafiknya menanjak terus, jangan sampai grafiknya melengkung ke bawah,” ungkap Prof. Rina.

 

Mums harus waspada jika grafiknya meloncat turun atau naik, misalnya dari hitam turun ke kuning, atau dari kuning turun ke merah. Atau sebaliknya loncat ke atas. “Jadi jangan menentukan anak kurang berat badan hanya dari asumsi, tapi pastikan dengan grafik pertumbuhan. Tidak memutuskan sendiri. Misalnya ada orang tua yang mendiagnosis anak kurang ASI lalu menambah formula. Sebaliknya ada yang bertahan memberikan ASI meskipun berat badannya sudah sangat kurang. Semua harus berdasarkan grafik dan dikonsultasikan dengan dokter.”

 

Baca juga: Anak Indonesia Akan Punya Kurva Pertumbuhan Baru?

 

Cara Mengejar Pertumbuhan Bayi Premaur dan BBLR

Jika hasil pemantauan di grafik pertumbuhan memang berat badannya tidak naik bahkan turun, maka ada cara mengejar gizi anak BBLR dan prematur. 

  • Untuk bayi sampai usia 4 bulan, bisa ditambah asupan susu. Susu bisa berupa ASI atau formula jika kualitas ASI tidak memenuhi syarat atau kurang, maka diberikan susu khusus tinggi protein.
  • Anak usia 6 bulan ke atas yang sudah makan pendamping ASI, bisa diberikan makanan cair khusus atau pemberian PKMK (Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus) misalnya dengan pemberian nutrisi parenteral.

 

Kedua pendekatan tersebut harus diputuskan oleh dokter. Prof. Rina berpesan, lebih baik mencegah terjadinya kelahiran prematur dan BBLR. 

 

“Cara mencegah kelahiran prematur dan BBLR bisa dengan mempersiapkan kehamilan yang sehat dengan melakukan pemeriksaan antenatal rutin dan persiapan pra-nikah. Nutrisi dan kesehatan ibu selama hamil penting untuk mencegah kelahiran prematur,” pungkasnya. 

 

Baca juga: Bisakah Persalinan Prematur Dihindari?

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.