Menu
Informasi tentang Kesehatan

Hipotiroid dan Hipertiroid Selama Kehamilan

  • Bagikan

 

Kondisi hipertiroid dan hipotiroid seringkali sulit dikenali selama kehamilan. Pasalnya, gejala-gejala yang timbul dari kedua kondisi ini sangat mirip dengan gejala kehamilan umum. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, hipertiroid dan hipotiroid selama kehamilan dapat berdampak buruk bagi Mums dan juga bayi. Oleh karen itu, yuk ketahui lebih lanjut mengenai kondisi hipertiroid dan hipotiroid selama kehamilan dan cara mengatasinya.

 

Apa Itu Gangguan Tiroid?

Kelenjar tiroid berada di bagian depan leher dan memiliki tugas untuk menghasilkan seluruh hormon dalam tubuh. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid ini memainkan peranan penting dalam mengatur metabolisme tubuh.

 

Secara khusus, produksi hormon tiroid diatur oleh kadar hormon perangsang tiroid (TSH) yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari di dalam otak. Tingkat hormon tiroid dalam darah ini akan berfluktuasi sepanjang hari tergantung pada respons kelenjar pituitari.

 

Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan banyak fungsi tubuh melambat. Sementara, hipertiroid adalah kondisi kebalikannya, di mana terlalu banyak hormon tiroid yang dihasilkan sehingga fungsi tubuh berjalan terlalu cepat.

 

Bagaimana Kehamilan Memengaruhi Kadar Tiroid?

Saat hamil, kedua hormon kehamilan, yakni ekstrogen dan human chorionic gonadotropin (hCG) akan meningkatkan kadar hormon tiroid dalam tubuh. Pada trimester pertama, hCG yang mirip dengan TSH akan merangsang produksi hormon tiroid. Selanjutnya pada trimester ketiga, volume tiroid bisa mengalami peningkatan menjadi 10-15% dalam tubuh.

 

Kedua hal yang telah disebutkan ini membuat tubuh memperlihatkan gejala yang mirip dengan gejala kehamilan pada umumnya, seperti kelelahan. Oleh karena itu, tes tiroid seringkali sulit ditafsirkan ketika Mums sedang hamil.

 

Baca juga: Gengs, Ketahui 7 Fakta Seputar Tiroid!
 

Hipotiroid Selama Kehamilan

Hipotiroid adalah kondisi kekurangan hormon tiroid tiroksin akibat kelenjar tiroid yang kurang aktif. Selama kehamilan, kondisi ini biasanya disebabkan oleh penyakit Hashimoto yang merupakan gangguan autoimun. Penyakit hashimoto menyebabkan peradangan kronis pada kelenjar tiroid dan mengganggu kemampuannya untuk memproduksi hormon.

 

Wanita yang memilki riwayat atau telah didiagnosis memiliki kondisi hipotiroid sebelum hamil tentu berisiko besar mengalami kondisi tersebut selama hamil. Perlu diketahui, hormon tiroid sangat penting dan dibutuhkan untuk perkembangan normal otak dan sistem saraf bayi. Bayi yang tidak memperoleh hormon ini secara cukup, terutama pada trimester pertama, berisiko lahir dengan masalah perkembangan neurologis.

 

Gejala Hipotiroid Selama Kehamilan

Beberapa gejala hipotiroid berikut mungkin akan tampak sangat mirip dengan gejala kehamilan. Namun, untuk memastikannya, Mums bisa segera mengonsultasikannya dengan dokter. Beberapa gejala yang dimaksud antara lain:

– Kelelahan ekstrem.

– Merasa kedinginan padahal suhu sekitar tidak rendah.

– Sakit otot dan kram.

– Kenaikan berat badan yang sangat signifikan.

– Masalah kulit.

– Rambut rontok.

– Pembengkakan, terutama pada bagian kaki dan tangan.

– Sembelit

 

Risiko Hipotiroid Selama Kehamilan

Jika tidak diobati, hipotiroid selama kehamilan dapat menyebabkan:

– Kelahiran prematur.

– Preeklampsia.

– Keguguran.

– Berat badan lahir rendah.

– Anemia pada ibu.

– Kelahiran mati.

 

Pengobatan untuk Hipotiroid Selama Kehamilan

Untuk memastikan apakah Mums mengalami hipotiroid, dokter biasanya akan meminta Mums untuk melakukan pemeriksaan tes darah guna memeriksa kadar TSH dan T4 (hormon tiroid).

 

Jika memang Mums mengalami hipotiroid, dokter akan meresepkan hormon sintetis yang disebut levothyroxine. Hormon sintetis ini aman untuk Mums dan juga bayi dalam kandungan. Pengobatan ini biasanya akan melibatkan dokter kandungan dan juga dokter ahli endokrin untuk menentukan dosis yang tepat.

 

Selama kehamilan dan pascapersalinan, kadar hormon tiroid Mums akan dipantau setiap 6 hingga 8 minggu untuk memastikan apakah dosis hormon yang diberikan perlu penyesuaian lebih lanjut.

 

Selain obat-obatan, pastikan juga untuk mengonsumsi makanan seimbang dan vitamin prenatal. Kemungkinan besar dokter mungkin juga akan menyarankan konsumsi suplemen 150 mikrogram (mcg) yodium sehari selama kehamilan, karena yodium penting untuk kesehatan tiroid.

 

Baca juga: 8 Gejala yang Menandakan Kamu Mengalami Masalah Tiroid
 

Hipertiroid Selama Kehamilan

Terbalik dengan kondisi hipotiroid, di mana tubuh Mums kekurangan hormon tiroid, hipertiroid justru terjadi saat kelenjar terlalu aktif menghasilkan sejumlah hormon. Menurut National Institutes, kondisi ini terjadi pada sekitar 1 hingga 4 dari 1.000 kehamilan.

 

Hipertiroid biasanya disebabkan oleh penyakit Graves (gangguan autoimun) pada ibu hamil, di mana sistem kekebalan membuat antibodi yang disebut imunoglobulin perangsang tiroid (TSI). Imunoglobulin ini akan menyebabkan tiroid memproduksi hormon secara berlebihan. Dalam beberapa kondisi yang jarang terjadi, hipertiroid selama kehamilan ini juga kerap dikaitkan dengan hiperemesis gravidarum (mual dan muntah parah) yang disebabkan oleh tingginya kadar hCG.

 

Gejala Hipertiroid Selama Kehamilan

Segera konsultasikan dengan dokter jika Mums mengalami beberapa gejala berikut:

– Detak jantung tidak teratur atau meningkat.
– Kelelahan.
– Cemas.
– Mual atau muntah yang parah
– Sulit tidur
– Penurunan berat badan atau penambahan berat badan lebih sedikit daripada kehamilan yang ideal.

 

Risiko Hipertiroid Selama Kehamilan

Sama halnya dengan hipotiroid, hipertiroid yang tidak segera ditangani selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi pada Mums dan juga bayi. Komplikasi tersebut seperti:

– Gagal jantung kongestif pada ibu.
– Preeklamsia.
– Keguguran.
– Lahir prematur.
– Berat badan lahir rendah.

 

Pengobatan untuk Hipertiroid Selama Kehamilan

Jika kondisi hipertiroid yang dialami Mums tergolong ringan, kemungkinan Mums tidak memerlukan perawatan apa pun. Namun, dalam kasus yang lebih parah, Mums mungkin akan memerlukan obat antitiroid yang disebut propylthiouracil (PTU) dalam dosis efektif terendah untuk trimester pertama.

Setelah trimester pertama, jika perlu, dokter mungkin akan merekomendasikan Mums untuk beralih mengonsumsi obat antitiroid methimazole (Tapazole, Northyx). Oleh karena itu, pastikan untuk terus memeriksakan diri ke dokter secara teratur agar dapat memastikan obat dan dosis yang tepat selama kehamilan Mums.

Dalam kasus yang jarang terjadi, yakni jika pengobatan tidak berjalan baik atau efek samping yang dialami terlalu parah, dokter mungkin akan menyarankan prosedur pembedahan untuk mengangkat sebagian tiroid.

Dengan kondisi hipertiroid, jika ibu memiliki antibodi spesifik yang dapat merangsang tiroid, maka ini juga dapat mempengaruhi tiroid bayi. Sehingga, bayi mungkin memiliki antibodi yang bersirkulasi selama beberapa minggu setelah lahir dan tentunya memerlukan pemantauan ekstra dari dokter.

 

Perubahan hormon yang terjadi selama hamil dapat berpengaruh pada kondisi tiroid Mums juga. Maka itu, jika memang Mums memiliki riwayat dengan gangguan tiroid, penting untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan dan ahli endokrin guna mendapat penanganan yang tepat. Gangguan tiroid yang tidak ditangani dengan baik selama kehamilan sangat berisiko terhadap Mums dan juga bayi. (BAG)

 

Baca juga: Prosedur Pemeriksaan Tes Fungsi Tiroid
 

 

Referensi

American Thyroid Asscociation. Hyperthyroidism in Pregnancy.

What to Expect. Thyroid Conditions During Pregnancy.

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.