Menu
Informasi tentang Kesehatan

Kekurangan Hormon Testosteron pada Diabetes

  • Bagikan

 

Ilustrasi kasus: Pak Edi, usia 56 tahun, menderita diabetes sejak 10 tahun yang lalu namun tidak kontrol teratur. Sejak 2 tahun ini, pak Edi mengeluhkan mudah lelah, sulit konsentrasi, mudah marah, libido menurun, lemah ereksi, dan rambut mudah rontok. Akhirnya, pak Edi berkonsultasi ke Dokter demi menjaga keharmonisan rumah tangganya. Setelah melalui pemeriksaan, Pak Edi terdiagnosis kekurangan hormon pria (hipogonadisme) yang kerap dialami pasien diabetes melitus.

 

Diabetes adalah sebuah penyakit yang serius dan kronik, yang terjadi dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Saat ini, diabetes merupakan masalah yang serius karena memberikan dampak ekonomi, kesakitan dan kematian yang signifikan.

 

Tahun 2021 diperkirakan terdapat 537 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes (10.5% populasi dunia). Angka ini diperkirakan meningkat hingga 643 juta pada tahun 2030. Di Indonesia, tahun 2021 diprediksi 19,5 juta penduduk menderita diabetes dan merupakan negara kelima dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.

 

Baca juga: Pria Diabetes Berisiko Kekurangan Hormon Testosteron, Ini Dampaknya!
 

Komplikasi diabetes jangka panjang dapat mempengaruhi banyak organ seperti penyakit jantung, penyakit saraf (stroke dan neuropati), gangguan ginjal, amputasi kaki dan gangguan mata yang menyerang retina sampai kebutaan. Salah satu komplikasi diabetes yang belum terlalu banyak dibahas adalah hipogonadisme atau kekurangan hormon laki-laki (testosteron).

 

Hipogonadisme adalah kondisi dimana kelenjar seksual tidak menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup. Kekurangan hormon pria (testosteron) ini menyebabkan permasalahan yang serius, baik fisik maupun psikis, serta menurunkan angka harapan hidup. Gangguan yang dialami akibat kekurangan hormon ini, antara lain: secara psikologis dapat menyebabkan depresi, nyeri kronik, gangguan konsentrasi, dan sakit kepala.

 

Gangguan seksual antara lain kehilangan gairah seksual, gangguan ereksi (impotensi) dan gangguan kesuburan. Hipogonadisme juga menyebabkan gangguan metabolisme, jantung, kehilangan massa otot, mudah lelah, hingga kerontokan rambut.

 

Baca juga: “Ternyata pada Pria Penderita Diabetes Ditemukan Penurunan Hormon Testosteron: Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Seksualitas dan Kesehatan Pria?”

 

Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa setidaknya 25% laki-laki dengan diabetes tipe 2 memiliki tingkat hormon laki-laki (testosteron) yang rendah.

 

Pengobatan hipogonadisme pada diabetes mellitus, antara lain memperbaiki kadar gula darah dengan pengawasan dokter, terapi pengganti hormon, memperbaiki status gizi, dan meningkatkan aktivitas fisik.

 

Saat ini, banyak dijual secara bebas obat-obatan untuk gangguan ereksi pada pria, namun demi keamanan, sebaiknya obat-obat yang digunakan dibawah pengawasan dokter untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

 

Terapi perbaikan hormon yang sesuai akan meningkatkan kualitas hidup , meningkatkan motivasi dan energi, mengurangi kelelahan, sehingga dapat melakukan aktivitas fisik yang akan meningkatkan massa otot, peningkatan fungsi jantung dan perbaikan metabolisme, dan meningkatkan kepercayaan diri laki-laki sehingga meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. (PP-NEB-ID-0185-1)

 

Baca juga: 5 Fakta tentang Testosteron, Salah Satunya Dimiliki Juga oleh Wanita

 

 

Referensi:

  1. IDF Diabetes Atlas 2021

  2. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/24/jumlah-penderita-diabetes- di-indonesia-diproyeksikan-capai-2857-juta-pada-2045 Accessed on 07/11/2022

  3. Dandona Paresh, Dhindsa Sandeep (2011). Update: Hypogonadotropic Hypogonadism in Type 2 Diabetes and Obesity. J Clin Endoc Metab. 2643-51

  4. Dohle GR, et al. EAU Guidelines on Male Hypognoadism. Last update 2018.

  5. Krzastek, S.C., & Smith, R.P. (2020). Non-testosterone Management of Male Hypogonadism: An Examination of the Existing Literature. Translational Andrology and Urology, 9(2), pp. S160–S170.

  6. Thirumalai, A., Berkseth, K., & Amory, J. (2017). Treatment of Hypogonadism: Current and Future Therapies. F1000Research, 6, pp. 68.

  7. Wisse, B. National Institute of Health (2020). Medline. Hypogonadism.

  8. Cleveland Clinic (2020) Disease & Conditions. Low Sex Drive (Hypogonadism).

  9. Mayo Clinic (2019). Diseases & Conditions. Male Hypogonadism.

  10. Martel, J. Healthline (2018). Hypogonadism.

  11. Vogiatzi, M.G. Medscape (2019). Drugs & Diseases. Hypogonadism.

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.