Menu
Informasi tentang Kesehatan

Kepala Bayi Berukuran Lebih Kecil

  • Bagikan

Mengukur lingkar kepala adalah pemeriksaan rutin yang wajib dilakukan begitu bayi dilahirkan. Tenaga kesehatan yang membantu persalinan akan memastikan ukuran kepala bayi normal, tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Memangnya ada ya ukuran kepala bayi yang terlalu kecil? Ada Mums, jika ukurannya sangat jauh di bawah normal namanya mikrosefalia. Apa ya penyebabnya?

 

Mikrosefalia adalah kondisi langka di mana bayi memiliki ukuran kepala yang lebih kecil dari rata-rata bayi seumuran. Kondisi ini bisa dimiliki bayi sejak lahir atau berkembang seiring bertambahnya usia.

 

Sebagian besar anak dengan mikrosefalia juga memiliki otak kecil sehingga akan memiliki masalah dalam hal kecerdasan dan intelektual. Namun ada juga anak meskipun dilahirkan dengan ukuran kepala lebih kecil, namun  memiliki kecerdasan yang normal.

 

Memahami mikrosefalia secara lebih mendalam dapat membantu Mums mengetahui penyebab dan bagaimana menyikapinya. 

Baca juga: Waspadai Penyakit yang Sering Menyerang Bayi Baru Lahir

 

Penyebab Mikrosefalia atau Kepala Bayi Berukuran Lebih Kecil dari Normal

Rata-rata lingkar kepala bayi baru lahir yang cukup bulan adalah sekitar 35 cm. Jika sangat kurang, maka bisa dikatakan mikrosefalia.  Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mikrosefalia. Mikrosefalia dapat berkembang saat bayi baru lahir atau pada tahun pertama kehidupan.

 

Kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya mikrosefalia mencakup:

  • kelainan genetik atau kromosom

  • infeksi selama kehamilan

  • gizi buruk

  • anoksia serebral

  • konsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, atau paparan racun selama kehamilan.

Mikrosefalia dapat didiagnosis bahkan sebelum bayi lahir, yaitu dengan USG. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi dan komputer untuk mendapatkan gambar organ. USG memungkinkan penyedia layanan kesehatan melihat organ, termasuk aliran darah. Kadang, mikrosefalia baru terlihat dengan USG saat bayi masuk trimester ketiga.

 

Untuk mendiagnosis mikrosefalia pada bayi yang telah lahir, penyedia layanan kesehatan akan menanyakan riwayat kesehatan anak. Dokter mungkin ingin mengetahui riwayat kehamilan dan kesehatan ibu. Penyedia layanan kesehatan juga akan memberikan anak pemeriksaan fisik.

 

Bayi juga mungkin menjalani tes, seperti:

  • Pengukuran lingkar kepala

  • CT-scan. Untuk melihat detail bagian dalam tubuh

  • MRI scan. Tes ini dilakukan untuk melihat gambar bagian dalam tubuh menggunakan gelombang magnet dan radio

  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kondisi medis yang menurun dalam keluarga.

 

Baca juga: Pentingnya Pengukuran Lingkar Kepala Anak, Sampai Usia Anak 3 Tahun ya Mums!

Efek Mikrosefalia Jangka Panjang

Efek mikrosefalia pada anak bisa berkisar dari ringan hingga parah, dan mungkin termasuk:

  • perkembangan yang terhambat

  • kesulitan belajar

  • masalah gerakan dan keseimbangan

  • kesulitan menelan dan masalah makan lainnya

  • gangguan pendengaran

  • gangguan penglihatan 

  • fitur dan ekspresi wajah yang terdistorsi

  • hiperaktif

  • bertubuh pendek.

Pada kasus yang parah, mikrosefali dapat mengancam jiwa.

 

Baca juga: Operasi Caesar Tidak Direncanakan, Biasanya Ini Sebabnya

Apakah Bisa Diobati?

Tidak ada obat untuk mengatasi mikrosefalia dan itu berlangsung seumur hidup anak. Yang biasanya dilakukan oleh tim medis adalah bekerja sama dengan keluarga anak untuk memberikan pendidikan dan bimbingan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak.

Yang biasanya dilakukan oleh tim medis adalah:

  • pemeriksaan dan pengujian untuk memantau perkembangan kepala anak

  • mengobati masalah kesehatan yang dialami anak

  • memaksimalkan kemampuan anak di rumah dan di masyarakat. Ini bisa dilakukan dengan terapi wicara, okupasi, dan fisik.

 

Sebagai upaya pencegahan, ibu hamil perlu berbicara dengan penyedia layanan kesehatan tentang risiko memiliki anak dengan mikrosefalia dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menurunkan risiko itu. Dalam setiap kehamilan, kamu juga bisa mengurangi risiko komplikasi dengan menghindari alkohol, obat-obatan, dan zat lainnya yang berpotensi sebagai racun.

 

Cacar air, rubella, cytomegalovirus, dan toksoplasmosis juga memiliki kaitan dengan mikrosefalia. Jadi, ibu hamil perlu melakukan tindakan untuk mencegah penyakit ini.

Mikrosefalia tentunya menjadi kondisi yang sangat ditakuti oleh ibu hamil. Untuk itu, penting bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan rutin, menerapkan gaya hidup sehat, dan menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit untuk menghindari bayi lahir dengan mikrosefalia serta masalah kesehatan lainnya. 

 

Baca juga: Bentuk Kepala Bayi, Mana yang Normal?

 

Sumber:

Medicalnewstoday

Standfordchlidren.org. Microcephaly. 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.