Menu
Informasi tentang Kesehatan

Marasmus, Kurangnya Protein pada Balita

  • Bagikan

Marasmus adalah jenis malnutrisi yang dapat terjadi pada siapa saja, tetapi paling sering dialami oleh anak-anak. Marasmus dapat terjadi jika seorang anak mengalami kondisi kekurangan nutrisi yang parah, seperti defisit kalori, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

 

Marasmus paling banyak terjadi di negara berkembang, seperti di beberapa wilayah Asia dan Afrika. Pasalnya, masyarakat di negara-negara ini cenderung kurang memperhatikan asupan nutrisi yang bergizi dan seimbang.

 

Baca juga: Terapkan 6 Kebiasaan Baik Sejak Dini untuk Hindari Malnutrisi
 

Gejala Marasmus

Kekurangan protein dan kalori yang parah pada anak dapat menyebabkan hilangnya lemak dan massa otot. Gejala marasmus yang paling umum adalah menurunnya berat badan akibat kekurangan gizi. Gejala lain yang dapat terjadi ialah dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau infeksi jika marasmus tidak diobati dalam waktu lama.

 

Secara lebih rinci, berikut beberapa gejala marasmus yang perlu Mums waspadai:

– Penurunan berat badan.

– Pertumbuhan yang lambat atau terhambat.

– Kulit dan mata kering.

– Rambut lebih rapuh, sehingga sering rontok.

– Diare.

– Sistem imun rendah, sehingga mudah sakit.

– Infeksi perut dan intoleransi laktosa.

– Infeksi saluran pernapasan.

– Rakitis karena kekurangan kalsium dan vitamin D.

– Anemia karena kekurangan zat besi.

– Gangguan fungsi otak dan disabilitas intelektual.

– Tekanan darah rendah atau hipotensi.

– Suhu tubuh rendah atau hipotermia.

– Detak jantung lambat atau bradikardia.

 

Kekurangan asupan nutrisi dapat menyebabkan tubuh mengalami kekurangan energi. Akibatnya, anak-anak dengan kondisi marasmus parah cenderung lebih lemas dan mudah kelelahan. Mereka juga rentan mengalami penurunan minat terhadap banyak hal, rewel, dan sensitif.

 

Baca juga: Pengetahuan Gizi Ibu Kurang, Memicu Kasus Malnutrisi
 

Penyebab Marasmus

Penyebab utama marasmus adalah kekurangan gizi. Namun, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya marasmus pada anak:

 

1. Pola makan yang buruk

Pola makan seimbang dan kaya nutrisi sangat penting untuk pertumbuhan anak-anak. Jadi, jika pola makan anak buruk dan kekurangan nutrisi, sangat besar risiko ia mengalami marasmus.

 

2. Kurangnya bahan pangan

Marasmus lebih sering terjadi di negara berkembang yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi dan kekurangan makanan. Daerah-daerah ini juga tinggi akan kasus kelaparan dan bencana alam, sehingga menyebabkan kurangnya sumber pangan. Anak-anak yang tinggal di daerah ini berisiko lebih tinggi mengalami marasmus.

 

3. ASI yang tidak mencukupi

ASI kaya akan nutrisi dan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Apabila ibu kekurangan gizi, maka tidak dapat memproduksi ASI secara maksimal dan berkualitas. Akibatnya, anak dari ibu dengan kondisi ini akan kekurangan asupan nutrisi dan mengalami marasmus.

 

4. Infeksi dan penyakit

Infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan patogen lainnya dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan. Hal ini berujung pada rendahnya asupan nutrisi penting pada penderita, yang mengakibatkan kondisi marasmus.

 

5. Gangguan makan

Meskipun kondisi marasmus terbilang langka di negara maju, beberapa anak juga bisa mengalami kondisi ini akibat adanya gangguan makan, salah satunya anoreksia.

 

Perawatan Marasmus

Jika marasmus tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kematian akibat infeksi, ketidakseimbangan elektrolit, gagal jantung, atau hipotermia. Oleh karena itu, jika terjadi marasmus, berikut langkah-langkah perawatan akan dilakukan.

 

1. Resusitasi

Langkah ini melibatkan rehidrasi, yang dilakukan dengan menyuntikkan larutan ke dalam pembuluh darah atau diberikan secara oral. Selain pemberian larutan, dokter juga akan memberikan antibiotik dan obat-obatan untuk mengobati infeksi dan penyakit yang menyebabkan kondisi marasmus. Jika anak-anak mengalami hipotermia, mereka akan dirawat dalam ruangan bersuhu hangat untuk mengembalikan suhu tubuh.

 

2. Stabilisasi

Langkah ini dilakukan dengan memberikan makanan secara bertahap untuk meningkatkan kadar nutrisi dalam tubuh. Dokter biasanya akan memulainya dengan memberikan susu yang dicampur air. Selain itu, pemberian larutan rehidrasi yang mengandung eletrolit, asam amino, glukosa, vitamin, dan mineral akan dilakukan secara oral atau disuntikkan ke vena.

 

3. Rehabilitasi gizi dan tindak lanjut

Langkah ini dilakukan dengan meningkatkan asupan nutrisi melalui pola makan kaya protein dan energi. Perbaikan nutrisi ini diharapkan dapat membantu tubuh memperbaiki kondisinya dan mengembalikan berat serta tinggi badan menjadi ideal.

 

Nah, itulah beberapa hal mengenai marasmus, yang merupakan salah satu jenis malnutrisi umum pada balita. Marasmus dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak, bahkan bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penting bagi orang tua menerapkan pola makan dengan nutrisi seimbang pada balita dan anak-anak agar ia terhindar dari kondisi ini. (AS)

 

Baca juga: Lengkapi Nutrisi Harian Sesuai Tahapan Perkembangan Anak

 

 

Referensi

WebMD. What Is Marasmus?.

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.