Menu
Informasi tentang Kesehatan

Mengejar Cakupan Imunisasi Melalui BIAN

  • Bagikan

Dampak pandemi selama dua tahun terakhir mulai dirasakan. Terdapat 1,7 juta bayi tidak mendapatkan imunisasi lengkap selama pandemi 2019-2021. Akibatnya beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan.

 

Dijelaskan Dr. Prima Yosephine, MKM, Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes RI, terjadi penurunan cakupan imunisasi yang signifikan sejak pandemi COVID-19. Secara rata-rata, terjadi penurunan cakupan sebesar 11,2% pada jenis imunisasi tertentu sejak 2019.

 

“Akumulasi anak yang tidak mendapat imunisasi rutin lengkap mengakibatkan tidak terbentuknya herd immunity, dan ini sangat berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa bahkan wabah,” jelas dr. Prima dalam Konferensi Pers Sosialisasi Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022, Selasa 28 Juni.

 

Dr. Prima memaparkan, sudah terjadi peningkatan kejadian campak dan rubella yang terkonfirmasi hingga 15 kali lipat di tahun ini dibandingkan tahun 2021. Peningkatan juga terjadi pada penyakit difteri.

 

“Bila situasi ini dibiarkan maka penularan penyakit akan semakin meluas. Kita menghadapi risiko yang berat yaitu gagal mencapai target eliminasi Campak-Rubella pada tahun 2023. dan gagal mempertahankan status Indonesia Bebas Polio yang telah dicapai sejak 2014. Selain itu peningkatan kasus KLB dapat menjadi beban ganda di tengah pandemi yang belum selesai,” jelas dr. Prima.

 

Baca juga: Pentingnya Imunisasi Lengkap untuk Anak dan Orang Dewasa
 

Mengejar Cakupan Imunisasi dengan BIAN

Menyadari risiko yang besar. Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022 di pertengahan bulan Mei 2022 lalu. BIAN diharapkan menjadi solusi untuk mencapai dan mempertahankan kekebalan populasi yang tinggi.

 

Dr. Prima memaparkan, BIAN terdiri dari 2 kegiatan, yaitu imunisasi tambahan berupa pemberian satu dosis imunisasi campak-rubela, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Artinya semua anak di bawah 5 tahun harus mendapatkan imunisasi tambahan ini.

 

Kegiatan kedua adalah imunisasi kejar, yaitu pemberian satu atau lebih jenis imunisasi untuk melengkapi imunisasi dasar maupun lanjutan yang belum diterima, sesuai usia anak. Jenis vaksin untuk kejar ini adalah vaksin polio oral (OPV), vaksin polio suntik (IPV), serta pentavalen DPT-Hepatitis B-Hib.

 

Tahapan, waktu dan sasaran BIAN 2022 secara garis besar dibagi menjadi area Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Area luar Jawa dibagi menjadi dua, karena wilayah yang sangat luas, dan sudah dimulai sejak Mei 2022. Sasaran imunisasi campak-rubella diberikan pada anak usia 9 bulan sampai di bawah 12 tahun. Sedangkan imunisasi kejar diberikan pada anak usia 12-59 bulan (di bawah 5 tahun) yang belum atau tidak lengkap imunisasi OPV, IPV, dan DPT-HB-HiB.

 

Tahap kedua dimulai Agustus 2022 untuk propinsi di Jawa yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bali dan DI Yogyakarta tidak melaksanakan BIAN karena cakupan imunisasi di dua wilayah ini sudah bagus. Di lima propinsi ini, imunisasi campak diberikan untuk usia 9 bulan hingga 59 bulan. Dan untuk kejar imunisasi sama dengan wilayah luar Jawa.

 

BIAN dilaksanakan di puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun swasta, klinik, praktek dokter, bidan dan fasilitas kesehatan lainnya.

 

“Target cakupan imunisasi tambahan campak-rubella adalah 90% dan kita harapkan cakupannya merata di semua desa dan kelurahan. Sedangkan target imunisasi kejar baik OPV, IPV maupun DPT-HB-Hib semuanya 80%,” jelas dr. Prima.

 

Baca juga: Apa Bedanya Tampek pada Balita dengan Campak?

 

Jangan Ragu, Ingat Bahaya Campak, Rubella dan Polio

Prof. DR. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional mengharapkan, semua bayi dan anak mulai umur 9 bulan ikut program BIAN untuk mendapatkan tambahan 1 kali imunisasi Campak Rubella, walau sebelumnya sudah mendapatkannya.

 

Selain itu anak umur 1 – 5 tahun harus mendapat imunisasi polio tetes OPV sedikitnya 4 kali, DPT-HepB-Hib 4 kali, dan IPV 1 kali. “Orang tua harus cek kembali status imunisasi anaknya, bila masih kurang, segera dilengkapi. Bila catatan hilang atau terselip dianggap belum lengkap. Andaikata ternyata sudah lengkap dan mendapatkan vaksin lagi juga tidak masalah karena jika melebihi jumlah vaksin yang seharusnya diterima tidak berbahaya, justru kekebalan lebih tinggi, karena berperan seperti booster,” jelas Prof. Soejatmiko.

 

Jadi Mums, segera bawa si Kecil untuk imunisasi tambahan dan mengejar ketertinggalan imunisasi ya! Mums tidak perlu khawatir, saat program BIAN, bayi Muma akan mendapatkan 3 suntikan imunisasi sekaligus, yakni MR, DPT-HepB-HiB dan IPV, ditambah polio tetes.

 

“Suntikan ganda juga dilakukan di banyak negara karena terbukti aman, KIPInya tidak lebih berat daripada suntikan tunggal, dan kekebalannya pun sama baiknya. Orang tua juga tidak perlu bolak-balik ke Puskesmas,” tambah Prof. Soedjatmiko.

 

Baca juga: 7 Hal yang Perlu Dilakukan Saat Anak Divaksinasi

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.