Menu
Informasi tentang Kesehatan

Mengenal Cacar Api, Kondisi yang Bisa Muncul setelah Cacar Air

  • Bagikan

Herpes zoster atau cacar api adalah kondisi yang dicirikan berupa ruam atau lecet pada kulit, yang biasanya terjadi setelah terkena cacar air. Setelah cacar air sembuh, virus menetap di dalam tubuh tanpa menimbulkan masalah. Namun, seiring bertambahnya usia, virus dapat muncul kembali sebagai herpes zoster.

Jika kamu belum pernah mengalami cacar air atau mendapatkan vaksin cacar air, cobalah untuk menjauh dari orang yang sedang mengalami cacar api. Untuk membantu memahami cacar api secara lebih mendalam, di sini akan dijelaskan beberapa informasi pentingnya yang dirangkum dari laman Mayo Clinic dan WebMD.

1. Gejala

Pada mulanya, cacar api akan menimbulkan sensasi seperti rasa terbakar, kesemutan, atau gatal. Biasanya gejala ini dirasakan di satu sisi tubuh atau wajah, yang bisa terasa ringan hingga berat.

Sekitar 14 hari kemudian, ruam akan timbul di tubuh. Ruam ini terdiri dari lepuhan kecil, yang biasanya akan menjadi keropeng dalam 7 sampai 10 hari, lalu biasanya muncul di sisi kiri atau kanan tubuh atau wajah. Pada kasus yang jarang terjadi, ruam meluas hingga mirip dengan cacar air.

Pada beberapa orang, mereka mungkin mengalami gejala lain, berupa:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Panas dingin.
  • Sakit perut.

2. Penyebab

Cacar api disebabkan oleh virus yang sama dengan virus penyebab cacar air, yaitu varicella zoster. Siapa saja yang pernah mengalami cacar air dapat mengalami cacar api. Setelah pulih dari cacar air, virus masih berada dalam tubuh dan tertidur selama bertahun-tahun.

Virus dapat kembali aktif dan berjalan di sepanjang jalur saraf ke kulit, menghasilkan cacar api. Namun, tidak semua orang yang pernah mengalami cacar air akan mengalami cacar api. Alasan seseorang mengalami cacar api masih belum jelas. Namun, ini dimungkinkan karena penurunan kekebalan terhadap infeksi seiring bertambahnya usia, seperti pada orang lanjut usia dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

3. Pengobatan

Obat antivirus dapat membantu seseorang lebih cepat sembuh dari cacar api dan mengurangi risiko komplikasi. Obat ini memberikan hasil paling efektif jika diminum dalam waktu 3 hari sejak awal ruam. Untuk itu, segera temui dokter begitu merasakan gejala. Nantinya kamu akan mendapatkan salah satu dari tiga obat ini untuk melawan virus:

  • Asiklovir (Zovirax).
  • Famsiklovir (Famvir).
  • Valasiklovir (Valtrex).

Perawatan lain untuk mengatasi nyeri herpes zoster dapat meliputi:

  • Obat antikonvulsan.
  • Antidepresan.
  • Mandi koloid.
  • Kompres dingin.
  • Menggunakan losion.
  • Acetaminophen atau ibuprofen.

Kebanyakan orang hanya terkena cacar api satu kali. Namun, terkadang cacar api bisa kembali, yang biasanya terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

4. Faktor risiko

Orang yang pernah mengalami cacar air dapat terkena cacar api. Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terkena cacar api meliputi:

  • Berusia lebih dari 50 tahun. Cacar api paling sering menyerang individu berusia di atas 50 tahun. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Memiliki penyakit tertentu. Penyakit yang mengganggu sistem kekebalan tubuh, seperti HIV dan kanker, dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.
  • Sedang menjalani pengobatan kanker. Pengobatan untuk kanker, seperti radiasi atau kemoterapi, dapat menurunkan imun tubuh dan membuat seseorang rentan terhadap cacar api.

5. Komplikasi

Cacar api dapat menyebabkan komplikasi yang berlangsung lama setelah ruam hilang, termasuk:

  • Peradangan otak atau kelumpuhan wajah jika memengaruhi saraf tertentu
  • Masalah mata dan kehilangan penglihatan jika ruam ada di dalam atau di sekitar mata
  • Nyeri yang berlangsung lama setelah kondisi sembuh, disebut postherpetic neuralgia. Ini memengaruhi 1 dari 5 orang yang terkena cacar api.

Setelah mengetahui beberapa informasi penting seputar cacar api, harapannya kamu bisa waspada dan mengambil langkah untuk mencegah cacar api beserta komplikasinya.

Referensi

Mayo Clinic: Shingles

WebMD: Shingles: What You Should Know

Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.