Menu
Informasi tentang Kesehatan

Ptosis Kongenital pada Bayi | GueSehat

  • Bagikan

Ptosis kongenital pada bayi dikenal juga dengan ptosis bawaan atau blepharoptosis bawaan. Kondisi ini dapat menyebabkan kelopak mata turun sejak lahir, sehingga bayi tampak selalu mengantuk. Kebanyakan bayi tidak menunjukkan gejala ini segera setelah lahir. Biasanya, baru terdeteksi setelah beberapa minggu atau bulan. Kira-kira apa penyebab ptosis kongenital dan dapatkah kondisi ini disembuhkan? Berikut penjelasannya!

  

Penyebab Ptosis Kongenital

Ptosis kongenital terjadi akibat melemahnya otot levator palpebrae superioris, yang bertugas mengangkat kelopak mata. Ptosis kongenital adalah kondisi multifaktoral yang dapat terjadi pada satu sisi saja (unilateral) atau kedua sisi (bilateral).

 

Penyebab ptosis kongenital tidak diketahui secara pasti. Namun, beberapa di antaranya berhubungan dengan riwayat keluarga yang memiliki kondisi serupa, di mana terdapat kelainan kromosom atau genetik.

 

Pada bayi dengan ptosis kongenital, jaringan otot pada otot levator sering digantikan dengan jaringan lemak atau fibrosa. Temuan histologis ini menunjukkan bahwa ptosis kongenital dapat disebabkan adanya kecacatan perkembangan pada struktur otot.

 

Selain dua faktor utama tersebut, berikut beberapa kemungkinan lain penyebab ptosis kongenital pada bayi:

– Fibrosis kongenital otot ekstraokular (CFEOM) tipe 1, 2, dan 3 dapat dikaitkan dengan ptosis dan kelainan mata lainnya.

– Kegagalan sambungan neuroomuskular atau disfungsi neurologis otot levator, yang menyebabkan ptosis kongenital pada beberapa bayi.

– Sindrom retraksi duane, kelainan gerak mata bawaan akibat keterbelakangan saraf kranial. Meskipun kondisi ini tidak secara langsung memengaruhi saraf kelopak mata, sindrom retraksi duane dapat memicu terjadinya ptosis kongenital karena bayi cenderung mengedip-ngedipkan mata.

– Sindrom Marcus Gunn jaw-winking yang menyebabkan kedipan kelopak mata saat rahang bergerak. Hal ini dapat terjadi karena hubungan abnormal antara saraf okulomotor kelopak mata ke cabang motorik saraf trigeminal yang menyokong rahang.

– BPES (blepharophimosis, ptosis, and epicanthus inversussyndrome) adalah kelainan autosomal dominan yang menyebabkan blepharoptosis (kelopak mata mengendur), blepharophimosis (penyempitan kelopak mata), epicanthus inversus (lipatan kelopak mata bagian dalam), dan telecanthus (mata melebar).

– Sindrom horner, yakni kondisi kelumpuhan okulosimpatik yang menyebabkan disfungsi saraf simpatis mata. Kondisi ini juga sering menunjukkan masalah mata lainnya, seperti ptosis.

– Bayi juga dapat mengalami ptosis karena kondisi neurologis, seperti kelumpuhan saraf kranial ketiga, trauma lahir, miastenia gravis, dan massa kelopak mata (tumor periorbital), karena dapat memengaruhi fungsi saraf dan otot mata.

 
Baca juga: Waspadai Penyakit Mata pada Bayi Baru Lahir
 

Tanda dan Gejala Ptosis pada Bayi

Kelopak mata terkulai adalah tanda khas dari ptosis bawaan pada bayi. Selain itu, beberapa bayi matanya juga lebih cepat berair. Dalam kondisi ptosis parah, penglihatan bayi dapat terganggu, bahkan sebagian besar mata akan tertutup oleh kelopak.

 

Bayi dengan ptosis kongenital juga umumnya memiliki posisi kepala yang tidak normal, seperti mengangkat kepala dan dagu ke atas saat melihat sesuatu yang berada di bawah ketinggian matanya.

 

Komplikasi Ptosis pada Bayi

Kelopak mata yang lemas dan turun dapat menyebabkan beberapa masalah berikut pada bayi:

– Astigmatisme: tekanan pada bagian depan mata dapat merusak bola mata dan menyebabkan kelainan refraksi.

– Ptosis parah dapat menyebabkan bayi mengangkat dagu untuk melihat sesuatu yang berada di bawah kelopak mata. Hal ini dapat menyebabkan masalah leher dan keterlambatan perkembangan.

– Kontraksi otot pada dahi saat mengangkat kelopak mata atas (otot frontalis).

– Amblyopia (mata malas): bayi dengan kelopak mata yang kedur dan dibiarkan tdalam waktu lama tanpa penanganan dapat mengalami amblyopia. Hal ini disebabkan oleh astigmatisme atau kelainan refraksi. Beberapa bayi juga dapat mengalami amblyopia deprivasi karena ptosis parah yang menutupi seluruh bagian mata.

– Jika tidak diobati, posisi kepala yang abnormal dapat menyebabkan deformasi kepala dan leher.

 

Baca juga: Penanganan Jika Mata Bayi Belekan
 

Pengobatan untuk Ptosis pada Bayi

Ptosis ringan yang tidak mengganggu perkembangan penglihatan normal bayi mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, ini tetap harus dipantau dan dievaluasi oleh dokter mata anak secara rutin. Jika memang ada komplikasi, maka diperlukan tindakan medis lebih lanjut, karena kondisi tersebut akan semakin sulit dikoreksi jika usia anak lebih dari 7 tahun.

Pada kasus ptosis yang menyebabkan penglihatan terganggu, dokter mungkin akan menyarakan untuk dilakukan terapi dan operasi medis. Koreksi bedah ptosis kongenital dilakukan tergantung pada derajat fungsi otot mata dan masalah yang mendasari. Ada pun prosedur bedah yang dapat dilakukan antara lain:

– Reseksi otot levator yang dilakukan untuk mengurangi kelopak mata yang turun. Biasanya ini dilakukan jika otot levator masih memiliki fungsi derajat sedang.

– Prosedur suspensi frontalis, dilakukan untuk mencapai tingkat elevasi kelopak mata melalui elevasi alis. Prosedur ini biasanya dilakukan jika fungsi levator rendah.

– Prosedur Fasanella-Servat adalah metode mengangkat kelopak mata atas dengan membuang jaringan dari bagian bawah kelopak mata.

– Reaksi otot konjungtiva Muller, dilakukan dengan penjahitan beberapa otot dan konjungtiva.

 

Ptosis kongenital merupakan kondisi yang tidak bisa dicegah. Dalam kondisi ringan, ptosis kongenital sebenarnya tidak akan menganggu penglihatan bayi. Namun, dalam kasus yang lebih parah, penanganan medis sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, segera konsultasikan dengan dokter jika Mums melihat adanya tanda-tanda ptosis kongenital pada si Kecil. (BAG)

 

Baca juga: Makanan dan Buah yang Mengandung Vitamin A untuk Kesehatan Mata

 

 

Referensi

American Association for Pediatric Ophthalmology & Strabismus. Ptosis.

Mom Junction. Congenital Ptosis In Babies: Causes, Symptoms And Treatment.

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.