Menu
Informasi tentang Kesehatan

Waspada Gejala Gagal Jantung | Guesehat

  • Bagikan

 

Tahukah Diabestfriends, saat ini 26 juta penduduk dunia hidup dengan gagal jantung. Sebagian masih berusia kurang dari 40 tahun. Penyebab utama gagal jantung adalah hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Bagaimana agar orang dengan hipertensi maupun diabetes terhindari dari gagal jantung?

 

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Gagal Jantung yang jatuh pada bulan Mei setiap tahunnya, Novartis Indonesia bekerja sama dengan Kelompok Kerja Gagal Jantung, Perhimpunan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia (Pokja Gagal Jantung PERKI), menyelenggarakan kegiatan edukasi media bertema “Berdamai dengan Gagal Jantung: Kendalikan Risiko Kardiovaskular Anda, Tangani Gagal Jantung dengan Baik”, pada Selasa, 31 Mei 2022.

 

Di Indonesia, prevalensi gagal jantung mencapai 5% dan lebih sering terjadi pada pria (66%) daripada wanita (34%) .

 

 

Baca juga: Kerusakan Saraf Membuat Penderita Diabetes tak Merasakan Gejala Serangan Jantung

Apa itu Gagal Jantung?

Gagal jantung merupakan kondisi kronis yang serius ketika jantung tidak lagi dapat memompa cukup darah demi memenuhi kebutuhan oksigen tubuh, akibat melemahnya otot jantung seiring berjalannya waktu.

 

Dijelaskan Dr. Siti Elkana Nauli, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, penderita hipertensi dan diabetes merupakan kelompok berisiko tinggi. “Tekanan darah yang selalu tinggi pada penderita hipertensi yang tidak terkontrol akan merusak pembuluh darah di jantung sehingga pada akhirnya jantung tidak lagi mampu memompa darah dengan maksimal. Begitu pula diabetes yang tidak terkendali akan merusak otot-otot dan pembuluh darah di jantung,” jelas dr. Nauli.

 

Meskipun penderita hipertensi, diabetes, dan orang yang memiliki penyakit kardiovaskular lebih berisiko, namun gagal jantung dapat terjadi pada siapa saja dan pada usia berapapun.

 

 

Baca juga: Banyak Penderita Diabetes “Melupakan” Kondisi Jantungnya

 

Gejala Khas Gagal Jantung

Untuk mendeteksi gagal jantung, menurut dr. Nauli, cukup dengan mengenali gejalanya yang sangat khas. Mudah lelah, cepat kehabisan napas, batuk atau sesak napas, pembengkakan (edema) terutama di kaki, dan perut terasa kembung atau sakit pada bagian perut adalah tanda-tanda gagal jantung.

 

“Semakin berat gagal jantung, maka semakin kepayahan dalam beraktivitas. Berjalan seidkit ngos-ngosan, naik tangga cuma mampu 3 tingkat, dan pada kasus yang sudah berat pasien yang tadinya bisa tidur dengan enak, nyaman, sekarang justru kalau tidur merasa lebih sesak dan pada akhirnya harus tidur dalam posisi duduk,” papar dr. Nauli.

 

Gagal jantung berat juga ditandai dengan seringnya pasien keluar masuk rumah sakit untuk dirawat, dan seringkali berakhir dengan kematian di rumah sakit.

 

 

Baca juga: Ingin Jantung Sehat, Jangan Percaya Mitos Seputar Penyakit Jantung

Gagal Jantung Bisa Dikendalikan dengan Berobat Teratur

Namun demikian, dr. Nauli menegaskan bahwa gagal jantung bukanlah akhir dari harapan hidup seorang pasien. Gagal jantung masih dapat dikendalikan dengan tatalaksana yang tepat, sehingga pasien tetap dapat menjalankan hidup yang mendekati normal dan berkualitas serta beraktivitas seperti biasa, selama dikenali dan diterapi pada kondisi dini.

“Pasien gagal jantung harus minum obat untuk membantu mengendalikan kondisinya. Bahkan walau gejala-gejalanya sudah membaik, pasien tetap perlu meminum obat secara teratur. Beberapa terapi yang biasanya digunakan untuk mendukung kerja jantung meliputi: penghambat reseptor beta (beta-blocker), penghambat sistem renin angiotensin (seperti ACE inhibitor atau ARB), antagonis aldosterone, serta inovasi terbaru penghambat enzim neprilisin (ARNI) dan penghambat sodium glucose transporter (SGLT2 inhibitor)” jelas dr. Nauli.

 

Dr. Nauli menegaskan, kelompok berisiko tinggi harus rajin cek ke dokter, salah satunya enderita diabetes lebih dari 3 atau 5 tahun tapi target gula darah tidak pernah tercapai, atau siapa saja yang berusia di atas 45 tahun yang ada riwayat keluarga dengan sakit jantung di bawah usia 55.

 

Baca juga: Serangan Jantung atau Henti Jantung? Keduanya Mematikan!

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.