Menu
Informasi tentang Kesehatan

Bercinta saat Hamil Berbahaya pada Kondisi Ini

  • Bagikan

Bercinta saat hamil selalu menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan pasangan suami istri. Memang tak salah kok jika menanyakan hal tersebut. Pasalnya, ada beberapa kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan suami istri karena bisa membahayakan kehamilan serta janin. Simak lebih lanjut di sini untuk mengetahuinya.

 

Kapan Seks Menjadi Tidak Aman selama Kehamilan?

Pada kondisi kehamilan yang sehat dan tanpa keluhan, bercinta bukanlah aktivitas yang dilarang. Ketakutan para suami akan menyakiti janin saat penetrasi pun tak beralasan karena jarak antara liang vagina dan rahim sangat jauh dan tak akan mungkin dijangkau oleh penis.

 

Selain itu, bayi dilindungi oleh kantong berisi cairan (kantong ketuban), otot-otot kuat rahim, serta sumbat lendir tebal yang menutup leher rahim (serviks). Singkat kata, seks tak berbahaya bagi kehamilan.

 

Namun, kehamilan tak semuanya sama. Beberapa wanita mengalami kehamilan yang tergolong berisiko tinggi, sehingga aktivitas fisik seperti bercinta harus dihindari. Kondisi apa saja dan kenapa bercinta menjadi bisa berbahaya? Berikut penjelasannya.

 

1. Hamil anak kembar

Siapa pun dapat mengalami komplikasi selama kehamilan, terlepas dari berapa banyak bayi yang dikandung. Namun, sebagian besar dokter kandungan sepakat bahwa kehamilan kembar berisiko lebih tinggi daripada kehamilan tunggal karena rentan mengalami komplikasi. Komplikasi yang bisa terjadi antara lain:

 

  • Persalinan dan kelahiran prematur: Komplikasi ini paling umum terjadi pada kehamilan kembar dibanding kehamilan tunggal. Itulah mengapa, Mums beserta dokter perlu sangat menjaga kehamilan secara saksama agar kehamilan cukup bulan menjadi 37 minggu. Dengan begitu, bayi dapat lahir sehat dengan berat badan yang cukup. Seperti yang sudah umum diketahui, bayi yang lahir prematur berisiko mengalami komplikasi, salah satunya berat badan lahir rendah.

 

  • Preeklamsia atau hipertensi gestasional (tekanan darah tinggi selama kehamilan): Pada kehamilan kembar, komplikasi yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi berisiko terjadi dua kali lipat dibanding kehamilan tunggal. Komplikasi ini juga cenderung terjadi lebih awal dan lebih parah. Itulah sebabnya, dokter akan mengawasi tekanan darah Mums dengan teliti untuk memastikan tidak mengalami hipertensi gestasional. Pasalnya, berawal dari hipertensi dapat menyebabkan kondisi berbahaya, yaitu preeklamsia. 

 

  • Diabetes gestasional: Pada kehamilan kembar, umumnya terbentuk dua plasenta untuk menghidupi dua bayi di dalam rahim, yang mana ini mengakibatkan peningkatan jumlah hormon dari plasenta dan terjadinya peningkatan resistensi insulin. Ukuran plasenta juga bisa menjadi faktor terjadinya diabetes gestasional. 

 

  • Solusio plasenta: istilah ini digunakan untuk menggambarkan terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum melahirkan. Jelas ini adalah situasi darurat karena akan sangat mengancam nyawa bayi maupun ibu hamil. 

 

  • Pertumbuhan janin terhambat (Intra Uterine Growth Retardation): Jika berat badan janin kurang dan tidak sesuai usianya, dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Hampir setengah dari kehamilan kembar memiliki masalah ini. 

 

Walau kehamilan kembar tidak selalu akan mengalami masalah, dokter kandungan akan lebih memperketat pengawasan dan menyarankan untuk membatasi, bahkan menghindari dulu, aktivitas seksual demi mencegah kemungkinan yang mengkhawatirkan.

 

Baca juga: Kenali Perdarahan Normal dan Tidak Normal setelah Melahirkan

 

 

 

 

2. Mengalami perdarahan

Salah satu penyebab paling umum dari perdarahan selama kehamilan adalah hubungan seksual. Karena serviks sangat sensitif dan terjadi peningkatan aliran darah ke area ini saat hamil, beberapa wanita dapat berisiko mengalami perdarahan setelah berhubungan seks.

 

Selain itu, serviks mengalami perubahan bentuk sebagai persiapan untuk kelahiran, meliputi membuka, melepaskan sel, dan menjadi sangat lunak. Mums mungkin tidak akan merasakannya, tetapi inilah yang membuat Mums bisa sangat rentan mengalami perdarahan.

 

Jika Mums mengalami perdarahan setelah berhubungan intim, hal terbaik yang harus dilakukan adalah tidak dulu berhubungan intim sampai waktu berkonsultasi kepada dokter tiba. Namun, segeralah ke rumah sakit jika Mums mengalami perdarahan ringan lebih dari 1 hari atau keluar darah segar secara hebat sampai-sampai perlu mengganti pembalut secara rutin. 

 

Baca juga: Merasa Ada Tekanan pada Vagina Selama Hamil? Ini Penyebabnya!

 

3. Plasenta Previa

Plasenta previa adalah kondisi plasenta terletak rendah di dalam rahim dan menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks) yang merupakan jalan lahir. Memang, letak plasenta bisa berada di posisi rendah saat awal kehamilan, tetapi akan naik lebih tinggi seiring pertambahan usia kehamilan. Plasenta previa dapat didiagnosis melalui USG dan menyebabkan masalah jika terjadi di kemudian hari dalam kehamilan.

 

Biasanya, perdarahan tanpa rasa sakit pada trimester ketiga adalah gejala utama. Tanda-tanda peringatan lainnya mencakup kontraksi prematur, posisi janin melintang atau sungsang, dan rahim berukuran lebih besar dari biasanya.

 

Plasenta previa merupakan kondisi serius karena dapat menyebabkan komplikasi, seperti pertumbuhan janin terhambat dan perdarahan fatal pada ibu. Banyak ibu hamil dengan kondisi ini harus menjalani perawatan tirah baring (bed rest).

 

4. Rahim lemah

Kondisi ini juga umum disebut sebagai insufisiensi serviks atau serviks inkompeten. Sesuai namanya, leher rahim akan menjadi lemah dan mulai melebar atau membuka terlalu dini selama kehamilan, sehingga meningkatkan kemungkinan keguguran dan kelahiran prematur.

 

Ibu hamil dengan insufisiensi serviks sangat disarankan untuk menghindari aktivitas fisik berat selama kehamilan, termasuk bercinta. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul dan mungkin merekomendasikan untuk menutup serviks dengan jahitan atau prosedur ikat  serviks (cervical cerclage). Hal ini dilakukan untuk menjaga bayi dapat berkembang dengan baik dan menurunkan risiko keguguran atau bayi lahir prematur.

 

5. Kantong ketuban pecah dini/ketuban merembes 

Cairan ketuban mengelilingi janin dalam kandungan untuk melindungi sekaligus mendukung perkembangan janin. Janin dan cairan tetap berada di kantong ketuban hingga waktu persalinan datang.

 

Pada kondisi yang tidak biasa, kantong ketuban bisa pecah dini ataupun merembes. Jika hal ini terjadi, tak ada cara lain yang bisa Mums lakukan selain segera ke dokter kandungan. Jangan menunda dengan alasan apa pun karena dapat berakibat fatal pada Mums dan janin. Hindari pula untuk berhubungan intim atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina karena meningkatkan risiko infeksi.

 

Merembesnya air ketuban dapat membuat jumlah air ketuban berkurang, yang berujung pada risiko komplikasi. Di trimester pertama, kurangnya air ketuban dapat menyebabkan cacat janin, keguguran, persalinan prematur, dan kematian janin. Sementara jika berlangsung di trimester ketiga, kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan selama persalinan akibat tali pusat yang tertekan dan mengurangi aliran oksigen ke janin, peningkatan risiko kelahiran caesar, serta pertumbuhan janin terhambat.

 

Ingatlah bahwa jika dokter mengatakan “tidak berhubungan seks”, itu bukan hanya untuk penetrasi saja, ya. Namun juga termasuk aktivitas apa pun yang melibatkan orgasme atau gairah seksual, seperti stimulasi payudara serta stimulasi klitoris. (AS)

 

Baca juga: Apa Itu Kehamilan Cukup Bulan? Ini Penjelasannya! 

 

Referensi

March of Dimes. Sex During Pregnancy

Mayo Clinic. Sex During Pregnancy

What to Expect. Bleeding After Sex



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.