Menu
Informasi tentang Kesehatan

Anak Suka Berjalan Jinjit | GueSehat

  • Bagikan

Kemampuan untuk berjalan menjadi salah satu milestone penting dalam perkembangan si Kecil. Pencapaian ini tentunya juga ditunggu-tunggu oleh Mums karena bertambah satu lagi kepintaran si Kecil. Tapi, bagaimana ya, jika diperhatikan si Kecil sering berjalan jinjit? Apakah ini tanda bahaya untuk perkembangannya? Yuk, temukan informasinya di sini.

 

Anak Berjalan Jinjit, Pertanda Apa?

Berjalan adalah tonggak penting untuk keterampilan motorik kasar anak, sehingga apa pun yang tidak khas terkait kemampuan ini, membuat cemas orang tua. Ditambah lagi komentar dari lingkungan sekitar yang dengan santai menyebutkan bahwa berjalan jinjit biasanya merupakan tanda autisme atau masalah neurologis.

 

Pertama, Mums perlu ketahui dulu bagaimana deskripsi berjalan jinjit. Berjinjit adalah pola berjalan di atas bola kaki atau jari kaki dan tidak ada kontak antara tumit dan lantai. Pola ini sebagian besar dilakukan saat anak mulai berjalan di usia 12 hingga 15 bulan. Memang wajar ketika anak-anak mulai belajar berjalan, ia mencoba posisi kaki yang berbeda, dan berjalan dengan jari kaki adalah salah satu cara yang ia coba. Namun seiring pertambahan usianya atau menginjak usia 2 tahun, si Kecil sudah harus bisa berjalan dengan kaki rata di tanah. Kemudian pada usia 3 tahun, ia harus berjalan dengan pola tumit-jari kaki.

 

Dapat disimpulkan, sampai usia 2 tahun, berjalan jinjit bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Seringkali, anak-anak yang berjalan kaki dengan pola seperti itu melakukannya karena kebiasaan. Kemudian, lebih dari separuh anak yang tadinya  berjalan jinjit, akan berhenti melakukannya sendiri sekitar usia 5 tahun. 

 

Hal itu diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan di Blekinge County, Swedia. Lebih dari 1.400 anak berpartisipasi dalam penelitian tersebut. Hasilnya diterbitkan di Pediatrics pada tahun 2012 dan menunjukkan bahwa lebih dari setengah anak-anak yang tadinya berjalan jinjit, berhenti melakukannya sendiri sekitar usia 5 tahun, dan sebagian besar dari mereka tidak memiliki masalah perkembangan atau neuropsikiatri.

 

Baca juga: Si Kecil Akan Tumbuh Jadi Anak Hebat Jika Ibunya Bahagia

 

 

 

Kapan Harus Mulai Khawatir?

Pada sebagian besar anak-anak, berjalan jinjit adalah idiopatik, yang berarti penyebab pastinya tidak diketahui. Pasalnya, ketika anak-anak dievaluasi oleh dokter dan dilakukan pemeriksaan fisik serta tes neurologis, semua hasilnya normal.

 

Namun pada kasus yang jarang terjadi, berjalan jinjit dapat disebabkan oleh tendon Achilles yang pendek (tendon yang menghubungkan otot-otot kaki bagian bawah ke bagian belakang tulang tumit), cerebral palsy, distrofi otot (otot melemah dan tidak dapat berfungsi dengan baik), atau penyakit saraf dan otot umum lainnya. Anak-anak dengan autisme juga lebih sering ditemukan berjalan jinjit daripada anak-anak yang berkembang secara normal. Namun, tidak ada hubungan langsung antara berjinjit dengan autisme, sehingga tidak bisa dijadikan indikasi pasti. 

Walau begitu, waspada tentu tetap diperlukan. Berkonsultasilah dengan dokter anak atau dokter spesialis tulang jika si Kecil berjalan jinjit diikuti oleh kondisi berikut:

  • Hampir selalu berjinjit ketika berjalan.
  • Memiliki otot yang kaku.
  • Tidak terkoordinasi.
  • Berjalan dengan canggung dan sering tersandung.
  • Memiliki keterampilan motorik halus yang tampaknya tidak berkembang secara normal. Misalnya, tidak bisa mengancingkan bajunya.
  • Terlihat tidak bisa menahan berat badannya dalam posisi kaki rata menapak lantai.
  • Kehilangan keterampilan motorik yang sudah dimilikinya.
  • Memiliki masalah medis lainnya.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan distrofi otot atau autisme.
  • Lahir prematur.
  • Sebelumnya sudah bisa berjalan dengan kaki datar dan baru-baru ini mulai berjalan jinjit.
  • Menghindari kontak mata atau menunjukkan perilaku berulang seperti bergoyang atau berputar.

 

Baca juga: Selama Pandemi, Buat Rutinitas Baru agar Anak Tidak Bosan dan Sedih

 

Dokter spesialis tulang atau ortopedi, umumnya akan melakukan serangkaian pemeriksaan dan evaluasi yang meliputi:

  • Mengajukan pertanyaan kepada orang tua terkait kehamilan, perkembangan motoriknya, dan riwayat kesehatan keluarga.
  • Pemeriksaan fisik dengan memeriksa kondisi kaki anak, memeriksa kelainan kulit, serta mengamati cara berjalannya.
  • Pemeriksaan neurologis untuk membantu menentukan apakah ada kelainan pada sistem saraf anak, seperti melakukan pemeriksaan refleks dan uji sensasi di lengan dan kaki.

 

Semua evaluasi di atas akan disesuaikan dengan usia, tingkat perkembangan, dan kemampuan si Kecil untuk bekerja sama. (IS)

 

Baca juga: Haruskah Si Kecil Diajarkan Baca dan Tulis?

 

Referensi:

American Academy of Orthopaedic Surgeons. Toe Walking

Children’s MD. Toe Walking



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.