Menu
Informasi tentang Kesehatan

Bolehkah Balita Minum Kopi | GueSehat

  • Bagikan

Orang dewasa minum kopi, sudah biasa. Bagaimana dengan si Kecil yang masih balita, apakah juga boleh minum kopi? Kita bahas lebih lanjut di sini, ya.

 

Bolehkah Anak-anak Minum Kopi?

Anak-anak meniru dan penasaran dengan apa yang orang tuanya lakukan. Contohnya, jika Mums atau Dads rutin ngopi dan si Kecil terbiasa melihatnya setiap hari, cepat atau lambat dia pun akan tertarik untuk mencobanya, atau bahkan bisa menyukainya. Lalu, berbahayakah itu?

 

Masalah utama ketika anak-anak minum kopi adalah kafein. Karena merupakan stimulan, kafein membuat ketagihan tidak peduli berapa usia seseorang mulai meminumnya. Tentunya, hal ini harus dihindari, terutama di masa kanak-kanak. 

 

Selain itu, secara umum kafein memiliki efek dosis-respons. Artinya, mengingat bahwa anak-anak memiliki tubuh yang lebih kecil daripada orang dewasa, sedikit saja asupan kafein sudah dapat memengaruhi fungsi tubuhnya. Ditambah lagi, kafein tentu dapat berdampak pada sistem kardiovaskuler dan saraf anak, dan dapat menyebabkan masalah yang sama seperti orang dewasa, seperti kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, gangguan tidur, dan refluks asam. Catat, pada anak kecil, semua gejala ini dapat terjadi hanya dengan sedikit kafein. 

 

Tak hanya itu, beberapa dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika si Kecil minum kopi antara lain:

 

1. Susah tidur 

 Anak-anak berusia 4-12 tahun membutuhkan setidaknya sebelas jam tidur per hari, dan remaja membutuhkan 9-10 jam. Kopi adalah stimulan dan dapat bertahan di dalam tubuh hingga delapan jam, sehingga dapat membuatnya sulit tidur atau tidur larut malam, yang mana ini dapat berkontribusi pada hilangnya jam tidur yang penting bagi anak-anak.

 

 2. Gigi berlubang

 Kopi merupakan minuman yang bersifat asam dan dapat menyebabkan gigi berlubang serta pengeroposan email gigi. Efek ini memang tak serta-merta terjadi, namun diperlukan waktu bertahun-tahun agar email baru mengeras setelah gigi dewasa tumbuh, dan anak-anak yang minum kopi lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mulut.

 

3. Nafsu makan berkurang

 Di masa pertumbuhannya, nutrisi menjadi unsur penting yang tidak boleh disepelekan dan si Kecil membutuhkan diet seimbang dengan banyak nutrisi. Sebagai penekan nafsu makan, kopi cenderung membuat anak-anak makan lebih sedikit dan kehilangan protein, nutrisi, dan mineral penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya.

 

 4. Mengganggu perkembangan tulang

Kopi bersifat diuretik yang artinya meningkatkan produksi urine. Hal ini turut berkontribusi pada hilangnya kalsium dari tubuh, yang dapat menyebabkan keropos tulang. Perlu diketahui, untuk setiap konsumsi 100 mg kafein, diperkirakan 6 mg kalsium hilang. Untuk anak-anak, berapa pun jumlah kalsiumnya, tentu sangat penting untuk pertumbuhan tulang.

 

 5. Hiperaktif

 Karena kopi adalah hiperstimulan, maka kopi dapat menyebabkan hiperaktivitas, kegelisahan, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Efeknya dapat berlangsung selama satu hari penuh dan tentu ini mendatangkan efek negatif jika si Kecil perlu duduk diam dan memerhatikan pelajaran di sekolah.

 

6. Asupan gula berlebih

 Hal lain yang penting untuk dipertimbangkan adalah si Kecil tertarik untuk menikmati kopi karena rasanya manis. Artinya, masalah yang perlu diperhatikan lebih dari sekadar kafein. Tentu saja, minuman manis seperti itu mengandung tinggi gula daripada jumlah harian yang direkomendasikan. Dan, asupan gula yang berlebihan meningkatkan risiko anak menderita obesitas dan diabetes, serta beberapa masalah perkembangan kognitif.

 

Baca juga: Penyebab Feses Bayi Berlendir

 

Asupan Kafein Tersembunyi

Sudah jelas, kafein bukanlah asupan yang baik untuk si Kecil. Namun perlu diingat, kafein tidak hanya terkandung di dalam kopi, lho. Setidaknya ada beberapa jenis makanan dan minuman yang perlu dibatasi ataupun dihindari jumlahnya karena mengandung kafein, di antaranya:

 

1. Cokelat

Camilan cokelat yang disenangi si Kecil tak hanya mengandung gula, tapi juga kafein. Umumnya, cokelat mengandung hingga 10 mg, tetapi semakin pekat cokelatnya, semakin tinggi pula jumlah kafeinnya, yang mengandung sekitar 31 mg kafein atau jumlah yang hampir sama dengan secangkir teh.

 

2. Es krim

 Es krim rasa kopi terdengar tak semenakutkan segelas kopi, tapi jika ditilik lebih dalam, kandungan kafeinnya tak bisa disepelekan, lho. Beberapa merek es krim kopi dapat mengandung 30 hingga 45 mg kafein, yang mana setara dengan kafein dalam sekaleng kola. Sementara, es krim cokelat biasanya memiliki lebih sedikit sekitar 3 mg per porsi.

 

Baca juga: Bolehkah Anak Dimandikan Jika Demam?

 

3. Minuman cokelat panas

 Minum segelas cokelat panas bisa jadi alternatif minuman hangat yang enak dinikmati si Kecil. Tapi hati-hati, segelas cokelat panas berukuran kurang lebih 180 ml rata-rata mengandung sekitar 4 mg kafein. Jumlah ini bisa semakin banyak jika si Kecil menikmati minuman ini dan diikuti dengan camilan lain yang mengandung kafein.

 

4. Teh manis

 Selain kopi, teh sudah umum dikenal sebagai asupan lain yang mengandung kafein. Walau tak setinggi kopi, namun dalam segelas teh manis rata-rata mengandung 50 mg kafein. 

 

5. Minuman soda

Bukan rahasia lagi, minuman soda juga merupakan sumber kafein yang perlu diwaspadai. Seperti sekaleng minuman kola yang mengandung sekitar 35 mg kafein. Belum lagi kandungan gulanya yang tinggi, rasanya tak perlu panjang lebar lagi ya, unti menjelaskan kenapa minuman ini sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi oleh si Kecil.

 

Tentu saja, Mums tidak dapat mencegah si Kecil untuk menjauhi minum kopi selamanya. Namun idealnya, ia tidak terpapar minuman berkafein sejak usia dini agar terhindar dari beragam dampak buruk. Semoga info berikut ini bisa membantu, ya. (IS)

Baca juga: Bermesraan di Depan Anak Itu Penting, lho!

 

 

 

Referensi:

John Hopkins Medicine. Coffee For Kids

Kids Health. Kids Drinking Cofee

Family Education. Sources of Caffeine

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.