Menu
Informasi tentang Kesehatan

Bumil dan Busui Bisa Vaksin Booster COVID-19

  • Bagikan

Setelah mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19, kini saatnya Mums mendapatkan vaksin dosis lanjutan (booster) agar lebih terlindungi dari gejala berat infeksi SARS-CoV-2. Berbedakah persyaratannya dengan vaksinasi dosis pertama dan kedua? Berikut infonya.

 

Bumil dan Busui Berhak Dapatkan Vaksin Booster

Sudah dua bulan sejak Omicron menjadi berita, varian terbaru COVID-19 ini kini menjadi jenis COVID yang dominan di banyak negara, termasuk Indonesia. Per 18 Januari 2022, kasus varian Omicron di Jakarta tercatat mencapai 856.

 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun memprediksi puncak kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia akan terjadi sekitar 4-8 minggu ke depan atau di bulan Februari hingga Maret, seiring dengan semakin naiknya kasus di negara lain.

 

Inilah mengapa semua orang kini disarankan untuk melindungi diri dengan vaksin booster. Setelah di tahun lalu mayoritas orang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 dua dosis, suntikan booster kini direkomendasikan untuk menjaga efektivitas vaksin yang menurun seiring waktu dan mungkin tidak melindungi terhadap strain baru. Penelitian pun turut menunjukkan bahwa mendapatkan dosis booster dapat mengurangi risiko infeksi dan penyakit parah akibat infeksi COVID-19. 

 

Anjuran ini tak terkecuali untuk ibu hamil dan menyusui. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memutuskan memperbolehkan ibu hamil mendapat vaksin booster atau lanjutan. Keputusan didasarkan atas pertimbangan ibu hamil menjadi salah satu kelompok yang sangat berisiko mengalami gejala atau komplikasi fatal jika terinfeksi virus COVID-19.

 

Seperti yang ditemukan oleh para peneliti, wanita hamil dengan COVID-19 memiliki peningkatan risiko untuk masuk ke unit perawatan intensif, mendapatkan perawatan mekanis, ventilasi, dan kematian. 

 

Baca juga: Penerima Vaksin Sinovac Boleh Booster Pakai Vaksin Pfizer atau AstraZeneca

 

 

Hal Penting yang Harus Diperhatikan

Tak berbeda dengan dua dosis pertama, vaksin booster dilaporkan aman diberikan kepada ibu hamil dan menyusui. Hal ini didasarkan atas penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa vaksinasi COVID-19 selama kehamilan tidak terkait dengan kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah.

 

Hasil dari penelitian ini mendukung rekomendasi CDC tentang keamanan vaksinasi COVID-19 selama kehamilan. “Bukti manfaat vaksinasi COVID-19 selama kehamilan terus bertambah, termasuk deteksi antibodi dalam darah tali pusat,” tulis para peneliti. 

 

Baca juga: Vaksin Booster CoronaVac Aman untuk Usia Lebih dari 3 Tahun

 

Vaksinasi booster nantinya dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama mekanisme homolog, pemberian vaksin booster menggunakan jenis vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya. Kedua dengan mekanisme heterolog, yaitu pemberian vaksin booster menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

 

Jenis vaksin yang digunakan antara lain:

  • Untuk sasaran dengan dosis primer Sinovac, maka diberikan vaksin AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml) atau vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml). 
  • Sementara untuk sasaran dengan dosis primer AstraZeneca, maka diberikan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml) atau vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml).

 

Agar Mums bisa mendapatkan vaksinasi booster COVID-19, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu:

  1. Suhu tubuh kurang dari 37,5°C.
  2. Tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg.
  3. Usia kehamilan di atas 13 minggu.
  4. Tidak memiliki keluhan, seperti kaki bengkak, sakit kepala, nyeri ulu hati, atau pandangan kabur.
  5. Jika memiliki penyakit penyerta (komorbid), harus dalam keadaan yang terkendali.
  6. Tidak memiliki penyakit autoimun. Jika mengidap penyakit autoimun tertentu, maka penyakit perlu dalam kondisi yang terkontrol.
  7. Tidak sedang mendapatkan pengobatan untuk pembekuan darah, kelainan darah, defisiensi imun, atau sedang menjadi penerima transfusi darah.
  8. Tidak sedang mendapatkan pengobatan immunosuppressant, seperti kemoterapi atau kortikosteroid.
  9. Tidak pernah terkonfirmasi COVID-19 dalam waktu tiga bulan terakhir. (AS)

 

Baca juga: Risiko Infeksi Ulang Tinggi, Peneliti Sarankan Booster untuk  Tangkal Varian Omicron

 

Referensi

Sehatnegeriku.Kemkes. Surat Edaran Pelaksanaan Vaksinasi Booster

Reuters. Covid-19 Vaccination during Pregnancy

Yale Medicine. COVID-19 Boosters

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.