Menu
Informasi tentang Kesehatan

Egoiskah Jika Ingin Punya Satu Anak?

  • Bagikan

“Kapan nambah lagi? Kasihan lho, anaknya kesepian.” Komentar yang sangat umum diucapkan itu mungkin terdengar biasa saja bagi beberapa pasangan suami-istri. Namun, juga bisa bermakna dalam jika Mums dan Dads berencana hanya ingin memiliki anak tunggal. Egoiskah keputusan ini? Jangan biarkan Mums terpuruk dalam rasa bersalah, ya. Semoga tulisan ini bisa menjadi pencerah.

 

Anak Tunggal Pasti Manja? Belum Tentu!

Sudah umum diketahui bahwa anak tunggal memiliki stereotip negatif, seperti egois, suka memerintah, agresif, hingga manja. Anggapan itu makin berkembang luas karena stereotip negatif yang terkait dengan anak tunggal memiliki sejarah yang mendalam sejak era Victoria dan munculnya psikologi anak sebagai bidang studi akademis.

 

Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, beberapa psikolog menerbitkan karya yang membentuk dasar persepsi anak tunggal. Di antaranya psikolog anak perintis, G. Stanley Hall, yang bersama dengan anak didiknya, menerbitkan survei dan menetapkan bahwa anak tunggal akan tumbuh dengan karakter yang tidak baik.

 

Selain itu, dikatakan bahwa orang tua penyayang yang memanjakan anak tunggal mereka akan mengubah sang Anak menjadi orang dewasa yang hipersensitif dan narsis. Hasil survei yang dilakukan oleh Hall ini bahkan sering dikutip, dengan mengatakan bahwa menjadi anak tunggal adalah sebuah “penyakit” psikologis.

 

Teori lain yang ikut membentuk stereotip negatif tentang anak tunggal dan juga sangat berpengaruh datang dari Alfred Adler, seorang psikoterapis Austria terkemuka dan pendiri sekolah psikologi individu.

 

Adler adalah psikolog pertama yang meneliti dan menulis secara menyeluruh tentang urutan kelahiran dan bagaimana struktur keluarga memengaruhi perkembangan anak-anak.

 

Dalam studi kasusnya sendiri, Adler juga menegaskan orang tua yang memilih untuk tidak memiliki lebih banyak anak menimbulkan kerugian psikologis pada anak mereka nantinya.

 

Namun, seiring berubahnya zaman, stereotip negatif itu banyak ditentang oleh para tokoh psikolog modern. Salah satunya psikolog sosial asal Amerika Serikat, Susan Newman, Ph.D,. Newman mengemukakan bahwa ada begitu banyak mitos soal anak tunggal yang perlu diluruskan. Beberapa di antaranya adalah:

 

1. Anak tunggal tidak akan serta-merta tumbuh menjadi anak yang manja. Para peneliti menemukan bahwa anak tunggal nyatanya tidak terlalu dimanjakan dan tidak ada perbedaan pada kemampuan belajar antara anak tunggal dan teman-temannya yang memiliki saudara kandung.

 

2. Anak tunggal pasti egois, tetapi tidak selalu begitu. Setiap anak akan melewati tahapan di mana ia merasa dunia berputar di sekelilingnya, sehingga ia akan bersikap bahwa hanya dirinya yang penting.

 

Pemahaman semacam itu umumnya timbul di usia 2 tahun dan perlahan akan berubah seiring dengan perkembangan kecerdasan emosional anak.

 

Dengan peran aktif orang tua untuk memupuk rasa kebersamaan dan berbagi, anak tunggal dapat tumbuh menjadi pribadi yang peduli dengan sekitarnya, tak ubahnya seperti anak-anak yang memiliki saudara kandung.

 

3. Anak tunggal susah diatur, padahal bisa sebaliknya. Hasil pengamatan dari guru taman kanak-kanak Deejay Schwartz, anak tunggal bersikap lebih tenang karena terbiasa didengar dan diperhatikan di rumah.

 

Kenapa hal ini bisa terjadi? Lima puluh atau 60 tahun yang lalu, seseorang menjadi anak tunggal biasanya karena alasan kesehatan, sehingga menjadi seperti “anak emas” yang dilindungi dan tidak memiliki banyak kebebasan.

 

Sedangkan sekarang, umumnya anak tunggal merupakan pilihan orang tuanya karena memang hanya menginginkan satu anak. Atas dasar inilah, orang tua dengan satu anak akan berusaha sekuat tenaga untuk memastikan si Kecil memiliki interaksi sosial yang baik dan bergaul dengan anak-anak lain sesering mungkin agar tumbuh kembangnya optimal.

 

Baca juga: Pertolongan Pertama di Rumah saat si Kecil Dicakar Kucing

 

 

 

 

Memiliki Anak Tunggal, Pilihan yang Egois?

Banyak anak, banyak rezeki. Paham semacam itu masih dipercaya sebagai sebuah “jimat keberuntungan” bagi beberapa keluarga. Tak heran, ketika Mums dan Dads terlihat nyaman dengan satu putra atau putri, orang-orang di sekitar tergerak untuk menanyakan hal yang sama, “Kapan nambah lagi?”, “Kapan hamil lagi biar sepasang?”, dan lain sebagainya. Pertanyaan semacam itu hadir karena sudah umum diyakini bahwa ukuran ideal sebuah keluarga adalah ayah, ibu, dan dua anak. Lebih bagus lagi jika memiliki satu putra dan satu putri.

 

Bukan hanya di Indonesia, gambaran ideal sebuah keluarga dengan memiliki dua anak juga berlaku di banyak negara dan sudah berlangsung sangat lama.

 

Pada tahun 1936, jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survei Gallup di Amerika Serikat, mendapatkan hasil bahwa hampir semua responden beranggapan dua anak adalah jumlah yang ideal.

 

Di Indonesia, jargon “dua anak cukup” bahkan menjadi program pemerintah untuk membatasi kelahiran bernama Keluarga Berencana dan menjadi tujuan awal didirikannya lembaga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

 

Jadi, apakah keputusan untuk memiliki satu anak berarti egois? Psikolog klinis sekaligus penulis buku Birth Order, Linda Blair, tidak setuju dengan anggapan tersebut.

 

Baginya, lakukanlah apa yang membuat orang tua bahagia karena itu akan sangat memengaruhi perkembangan si Kecil. Walau terlihat tidak mengerti, si Kecil diam-diam mengamati, lho.

 

Baca juga: Penyebab Balita Menahan Buang Air Besar dan Cara Mengatasinya

 

“Orang tua sepatutnya menjadi panutan untuk menunjukkan bahwa orang tua berhak memiliki kehidupan, di samping perannya menjadi orang tua. Dan bagi anak perempuan, contoh ini akan sangat penting karena membantu membentuk pemahaman bahwa wanita dapat memiliki karier, melakukan apa pun yang diinginkan, sekaligus memiliki keluarga,” ujar Blair.

 

Para ahli juga menemukan bahwa ada korelasi yang jelas antara jumlah anak dan kualitas pola asuh. Pasalnya, orang tua memiliki kemampuan untuk menyediakan dana yang cukup agar bisa memberikan pendidikan dan lingkungan terbaik bagi anaknya.

 

Toni Falbo, seorang peneliti di University of Texas yang mempelajari keluarga anak tunggal, mengatakan bahwa perbedaan prestasi antara anak tunggal dan bukan anak tunggal, menjadi lebih jelas ketika mereka bertambah usia.

 

Selain pendidikan, orang tua juga dapat mengekspos anak tunggalnya ke lebih banyak pengalaman traveling dan belajar budaya dari perjalanannya. Keistimewaan ini belum tentu dapat ditawarkan oleh keluarga dengan banyak anak karena umumnya terbentur dengan keterbatasan biaya.

 

Kembali lagi, menentukan jumlah anak adalah sebuah keputusan besar yang harus dibicarakan dan disepakati oleh Mums dan Dads. Karena sejatinya, kehadiran seorang anak didasarkan atas cinta dan tanggung jawab, sehingga ia bisa dibesarkan di dalam keluarga yang dapat mencukupi kebutuhan fisik dan mentalnya. (AS)

 

Baca juga: Jenis Pemeriksaan Pendengaran Pada Bayi dan Anak

 

Referensi

Grazia. Only Child

The Guardian. Only Child

Psychology Today. Family Size

Susan Newman. Only Child Stereotypes



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.