Menu
Informasi tentang Kesehatan

Ini Akibatnya Jika Melarang Anak Menangis

  • Bagikan

Anak menangis kerap diartikan cengeng atau nakal, sehingga sering kali dilarang untuk melakukannya. Padahal, hal ini tak baik untuk perkembangan emosionalnya, lho. Mari simak lebih lanjut di sini.

 

Salahkah Menyuruh Anak Berhenti atau Tidak Menangis?

Menjalankan peran sebagai orang tua, tentu tak selalu diisi dengan pelangi dan hal-hal menyenangkan. Akan ada banyak situasi yang menantang dan menuntut kita untuk bertindak bijak, walaupun sedang emosional. 

 

Seperti ketika menghadapi si Kecil yang menangis dan kita sebagai orang tua tak selalu memahami sepenuhnya kenapa anak menangis dan apa yang ia butuhkan. Di sinilah terkadang orang tua malah menyuruh si Kecil berhenti menangis.

 

Sebelum membahas panjang lebar dampak dari tindakan ini, Mums bisa mencoba memahami situasinya dari simulasi kejadian berikut ini:

 

Bayangkan diri Mums sebagai anak berusia empat tahun. Mums menangis karena ingin susu cokelat, namun malah diberi susu vanila. Dalam perjalanan untuk memberi tahu ibu di ruangan seberang tentang apa yang Mums inginkan, Mums malah terpeleset hingga jatuh. Ketika akhirnya sampai ke ibu, ia malah mengabaikan Mums. Tangisan pun semakin keras dan Mums sebagai anak-anak tidak bisa mengekspresikan diri karena sangat kesal. Mums ingin sekali dipeluk dan dihibur oleh ibu. Namun, ibu malah menyuruh untuk berhenti menangis dalam nada marah. Tak cukup sampai di situ, ibu malah menghukum karena Mums tak berhenti menangis. Ibu berkata bahwa hal yang terjadi pada Mums tak perlu ditangisi.

 

Dari simulasi di atas, apa yang Mums rasakan jika berada di posisi sebagai anak-anak? Kecewa, sakit hati, merasa sendirian, atau bahkan kehilangan kepercayaan kepada orang tua, mungkin salah satunya. Ya, begitu pula yang dirasakan oleh si Kecil.

 

Seringkali, orang tua hanya berfokus untuk menghentikan tangisan ketimbang mencoba terhubung dengan anak. Padahal, menghentikan anak menangis sama seperti menyuruh seseorang untuk tenang saat sedang kesal. Ini adalah menciptakan respons yang berlawanan.

 

Bukan hanya itu, akan timbul dampak lain dari reaksi Mums jika menyuruhnya berhenti menangis. Semua ini tak akan terlihat besok atau lusa, namun kian menumpuk dan membekas jika terus Mums lakukan kepadanya. Antara lain:

 

 

  • Ia tak bisa mengenali emosinya dengan baik

 

Tahukah Mums, bahwa membiarkan si Kecil menangis memberinya ruang aman yang ia butuhkan untuk memilah-milah perasaannya. Sebaliknya, menyuruhnya untuk berhenti menangis justru membatasi apa yang si Kecil pikir bisa diungkapkan kepada orang yang ia percaya. Ia makin tak paham, kenapa ia ingin menangis ketika keinginannya tak terkabul atau merasa kesal. Ia pun tak paham kenapa sosok ibu yang ada di depan mata tak bisa mengerti perasaannya. Semua ini tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata yang baik, karena di usianya saat ini ia memiliki perbendaharaan kosakata yang terbatas, sehingga akan lebih mudah baginya untuk mengungkapkan emosi dengan menangis.

 

Tak hanya itu, rasa marah, kesal, atau sedih yang ia tekan dan tahan karena Mums minta, justru akan menggulung menjadi perasaan negatif. Ingat, menangis itu perlu sebagai pelepasan emosi. Semua orang berhak untuk menangis dan merasa lebih baik daripada menahan emosi. 

 

 

  • Anak merasa tidak berharga

 

Mums pasti pernah berada di dalam situasi, ketika mencoba menahan tangis, kemudian mendapatkan pelukan atau tepukan penyemangat dari seseorang, tangisan Mums malah pecah dan tak tertahankan? Situasi ini tidak mengartikan bahwa Mums lemah, namun karena emosi yang Mums rasakan itu valid dan dihargai. 

 

Itu pula yang diinginkan dan dicari si Kecil dari orang tua: validitas dan penghargaan. Bahwa rasa kesal, marah, atau sedihnya terhadap hal yang mungkin sepele di mata orang dewasa, penting dan patut dihargai. Bayangkan jika ia malah mendapat reaksi sebaliknya dari ibu atau ayahnya, dan itu terus berulang sepanjang masa kecilnya. Tentu akan sulit baginya untuk merasa bahagia, karena ia selalu merasa tidak cukup untuk orang lain.

 

 

  • Anak susah berempati kepada orang lain

 

Menangis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan. Dan untuk mengajarkan nilai ini, caranya tak lain adalah dengan mencontohkan. Saat Mums berusaha membuat si Kecil nyaman saat menangis, ia tak tahu bahwa itu yang namanya empati. Namun, anak akan memahami bahwa empati bekerja ketika kita dengan tulus mendukung dan hadir untuk diajak bicara ketika seseorang meminta bantuan.

 

Baca juga: Waspada Marasmus, Malnutrisi Umum pada Balita Akibat Kurangnya Asupan Protein

 

 

 

 

Yang Bisa Mums Lakukan

Jadi, semestinya bagaimana orang tua bersikap ketika si Kecil menangis? Tentu saja bukan menyuruhnya berhenti menangis ya, melainkan melakukan hal berikut ini:

 

 

Tak perlu kalimat panjang, pelukan tulus Mums sudah lebih dari cukup untuk menyamankan perasaan si Kecil.

 

 

  • Datangi si Kecil dan tatap matanya

Sejajarkan tubuh Mums dengan tubuh si Kecil dan tanyakan apa yang membuatnya marah atau kesal hingga menangis. Mungkin ia tak langsung menjawab pertanyaan Mums, namun kehadiran Mums di saat ini sangatlah berarti.

 

 

Baca juga: Jangan Sepelekan, Berikut Beberapa Masalah Kuku yang Umum Terjadi pada Balita

 

 

Tak semua anak berkenan untuk didampingi saat ia menangis. Pada beberapa anak, ia merasa lebih nyaman untuk puas menangis terlebih dulu, lalu menghampiri Mums ketika sudah merasa lebih baik. Jika si Kecil termasuk tipe yang ini, hargailah pilihannya dan berikan ia waktu untuk menangis dengan caranya.

 

Perlu diingat, menangis bukanlah reaksi yang harus dihindari. Anak juga manusia, yang artinya ia akan tumbuh dengan seperangkat emosi seperti orang dewasa, dan tugas kitalah untuk mendampinginya saat ia belajar untuk memahaminya. (IS)

 

Baca juga: Mengenali 5 Kondisi Anak yang Harus Diatasi dengan Terapi Wicara

 

Referensi:

First Cry. Things to Say When Kids Crying

Scary Mommy. Kids Crying



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.