Menu
Informasi tentang Kesehatan

Kunci Sukses Menyusui | GueSehat

  • Bagikan

 

 

Menjadi seorang ibu bukan pekerjaan mudah. Setelah melewati 9 bulan masa kehamilan, kemudian bertaruh nyawa saat melahirkan, kini Mums masih harus melanjutkan perjuangan untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi si Kecil, yakni dengan menyusui.

Ada banyak keluh kesah yang dirasakan oleh ibu menyusui, salah satunya produksi ASI yang tidak terlalu banyak. Nah, sebelum Mums merasa kecil hati, yuk cari tahu kunci sukses menyusui berikut ini!

 

Baca juga: Mums, Sudah Tahu Persiapan dan Jadwal Menyusui Bayi Baru Lahir?
 

Kunci Sukses Menyusui

ASI tidak hanya mengandung makro dan mikronutrien saja, tetapi ASI juga mengandung jaringan hidup mikrobial. Tak heran jika pemberian ASI secara eksklusif yang kemudian dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun dapat memberikan banyak manfaat, mulai dari membuat anak lebih cerdas hingga memperkuat imunitasnya agar tidak mudah sakit.

Meski sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang si Kecil, sayangnya tidak semua ibu memiliki pengalaman menyusui yang menyenangkan. Salah satu permasalahan yang cukup umum dialami oleh ibu pasca melahirkan dan selama menyusui adalah kurangnya produksi ASI.

Banyak ibu yang akhirnya merasa tertekan ketika mendapati dirinya hanya dapat mengeluarkan sedikit ASI setelah melahirkan. Namun, sebenarnya hal ini bisa perlahan-lahan diperbaiki.

“Hormon menyusui itu memang baru ada setelah ibu melahirkan untuk menggantikan hormon kehamilan. Hormon menyusui ini tidak akan langsung mencapai puncaknya begitu saja setelah bayi lahir, maka sebenarnya diperlukan rangsangan untuk meningkatkan hormon menyusui tersebut,” jelas Dokter Spesialis Anak dan Konselor Menyusui, dr. Citra Amelinda, Sp.A, pada sesi webinar Philips Avent bersama SuperMom, Kamis, 24 Maret lalu.

Hormon menyusui sendiri terdiri dari prolaktin dan oksitosin. Kedua hormon ini berperan besar dalam produksi ASI. Dokter Citra kemudian juga menambahkan bahwa perubahan hormon-hormon menyusui ini tidak bisa disamakan dengan sebuah saklar lampu, yang bisa mencapai puncak atau menurun dalam waktu cepat.

“Karena rangsangan sangat diperlukan dalam memicu produksi ASI, maka penting untuk menerapkan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) setelah melahirkan. Ketika bayi menjilati puting ibu, ini akan merangsang hormon menyusui untuk memproduksi ASI,” tambahnya.

Selanjutnya jika dalam 3-5 hari pertama pertama setelah melahirkan Mums masih menghasilkan ASI beberapa tetes saja, jangan langsung merasa kecewa. Meski hanya beberapa tetes, ASI ini tetap mengandung protein dan laktoferin. Maka itu, tetap upayakan menyusui secara optimal, sehingga tubuh akan terangsang untuk menghasilkan lebih banyak ASI.

Produksi ASI juga sangat bergantung pada supply dan demand. Jadi, semakin sering Mums menyusui atau mengeluarkan ASI, maka tubuh Mums akan semakin banyak memproduksi ASI demi mencukupi kebutuhan. Hal ini karena dalam payudara Mums terdapat kantong-kantong ASI. Saat kantong-kantong ASI ini kosong, otak akan mengisyaratkan payudara untuk memproduksi ASI kembali.

Selain rutin menyusui, kunci sukses dari produksi ASI yang maksimal adalah perlekatan bayi yang tepat saat menyusu. Idealnya, menyusui bukanlah proses yang menyakitkan. Jadi, jika Mums mengalami nyeri atau merasa tidak nyaman saat menyusui, ada kemungkinan posisi perlekatan bayi kurang tepat.

“Perlekatan yang tepat dapat dilihat ketika bayi membuka mulut selebar mungkin dan memasukkan seluruh puting hingga areola ke dalam mulutnya. Setelah selesai menyusui, jika perlekatannya tepat, payudara ibu tidak akan terasa sakit,” pungkas dr. Citra.

 

Baca juga: Inilah Kunci Agar Mums Gembira Menyusui!
 

Pompa ASI, Solusi Optimalkan Produksi ASI Meski Tidak Bisa Menyusui Langsung

Produksi ASI sangat ditentukan oleh permintaan, lantas bagaimana dengan ibu yang memiliki kesibukan sehingga tidak bisa menyusui bayi secara langsung. Untuk bisa tetap memaksimalkan produksi ASI, dr. Citra merekomendasikan penggunaan pompa ASI bagi Mums yang tidak bisa menyusui secara langsung.

“Ada banyak jenis pompa ASI saat ini, mulai dari yang manual, elektrik, portable, atau bahkan hands-free. Semua ini bisa menjadi pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Mums. Pompa ASI bekerja layaknya mulut bayi ketika menyusu, sehingga payudara bisa tetap dikosongkan ketika Mums tidak menyusui bayi secara langsung,” tutup dr. Citra. (BAG)

 

Baca juga: Mums, Hindari 5 Kesalahan Berikut saat Menyusui!
 

 

Referensi

Webinar Philips Avent bersama SuperMom. “MENGOPTIMALKAN PERTUMBUHAN SI KECIL DENGAN ASI EKSKLUSIF – Tips & Rahasia MengASIhi Eksklusif Bagi Para Ibu”.

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.