Menu
Informasi tentang Kesehatan

Metode Induksi Persalinan | Guesehat

  • Bagikan

Menjelang akhir kehamilan, ada banyak skenario yang bisa terjadi, salah satunya jika Mums memiliki kondisi dimana akan lebih aman jika bayi dalam kandungan segera dilahirkan. Jika hal ini terjadi, maka Mums bisa dihadapkan pada 5 pilihan metode induksi persalinan. 

 

Induksi adalah istilah untuk proses stimulasi kontraksi rahim. Disebabkan oleh beragam kondisi, banyak Mums yang harus diinduksi saat melahirkan. Inilah kenapa Mums harus mengetahui kelima pilihan metode induksi persalinan!

 

Baca juga: Atonia Uteri, Komplikasi Persalinan yang Perlu Diwaspadai
 

5 Metode Induksi Persalinan

Berikut sejumlah metode induksi persalinan yang perlu Mums ketahui:

 

Induksi Medis Persalinan

Banyak dokter yang merekomendasikan induksi medis persalinan jika kehamilan melewati usia 41-42 minggu, karena fungsi plasenta dalam memberikan nutrisi bayi biasanya sudah menurun di waktu tersebut.

 

Beberapa dokter merekomendasikan induksi medis dilakukan di usia kehamilan 39 minggu karena penelitian menunjukkan bahwa bayi memiliki kesehatan maksimal jika dilahirkan di usia tersebut.

 

Namun sebelumnya, induksi hanya direkomendasikan ketika kesehatan Mums ataupun bayi mengalami risiko infeksi, atau kondisi medis lain seperti preeklampsia, cairan ketuban rendah, dan lainnya.

 

Sapu Membran

Teknik sapu membran adalah teknik pemisahan selaput ketuban dari serviks untuk menstimulasi produksi prostaglandin, yaitu hormon yang penting untuk persiapan serviks ketika bayi akan keluar dari perut Mums. 

 

Sapu membran biasanya dilakukan setelah usia kehamilan 38 minggu. Saat proses sapu membran, bisa terjadi perdarahan ringan di serviks dan terkadang air ketuban juga pecah. Biasanya prosedur ini ditawarkan ketika serviks sudah berdilasi. 

 

Baca juga: Aurel Hermansyah Jalani Proses Caesar, Benarkah Berisiko Tidak Bisa Punya Banyak Anak?
 

Amniotomi

Kebanyakan wanita mengalami kontraksi dalam kurun waktu beberapa jam setelah air ketuban pecah. Amniotomi adalah prosedur memecahkan air ketuban. Dengan memecahkan air ketuban, kontraksi akan langsung terjadi. 

 

Untuk melakukan amniotomi, dokter akan menggunakan alat khusus untuk membuat lubang di membran ketuban. 

 

Balon Kateter

Balon kateter adalah pilihan metode induksi lain yang bisa Mums pilih. Dalam prosedur ini, kateter diletakkan dan dikembangkan dengan air steril di atas serviks, di dalam rahim. Balon kateter akan membantu dilatasi serviks. 

 

Induksi balon kateter tidak membutuhkan penggunaan obat. Namun, bisa digunakan bersama obat yang dimasukkan ke dalam vagina atau dikonsumsi untuk membantu memproduksi prostaglandin mempercepat kontraksi. 

 

Ketika digunakan bersama obat, balon kateter dapat meningkatkan kemungkinan melahirkan dalam waktu 24 jam. Namun, prosedur ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Selain itu, pasien yang memiliki luka bekas operasi caesar sebelumnya tidak direkomendasikan mengonsumsi obat karena bisa meningkatkan risiko ruptur rahim.

 

Infus Pitosin/Oksitosin IV

Infus pitosin dan oksitosin bisa dilakukan di bawah pengawasan dokter yang ketat untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan kontraksi. Meskipun dosis infus bisa disesuaikan untuk mencapai pola kontraksi yang diinginkan, denyut jantung bayi dalam kandungan harus selalu dipantau untuk memastikan keamanan Mums maupun bayi. Jika kontraksinya tidak ditoleransi dengan baik oleh bayi, maka biasanya peningkatan dosis dihentikan. 

 

Baca juga: Atta Halilintar Histeris, Begini Sebaiknya Suami saat Dampingi Istri Bersalin

 

 

Sumber:

Very Well Family. How to Induce Labor. Maret 2022.
American College of Obstetricians and Gynecologists. Induction of Labor.
March of Dimes. Medical Reasons for Inducing Labor.
American College of Obstetricians and Gynecologists. Induction of Labor at 39 Weeks.
American College of Obstetricians and Gynecologists. Labor Induction.
Levine LD, Downes KL, Elovitz MA, Parry S, Sammel MD, Srinivas SK. Mechanical and pharmacologic methods of labor induction: a randomized controlled trial. Obstetrics & Gynecology. 2016.



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.