Menu
Informasi tentang Kesehatan

Protein Hewani Mencegah Stunting | Guesehat

  • Bagikan

 

Masih dalam rangka Hari Gizi Nasional di tanggal 25 Januari, tahun ini pemerintah mengangkat tema ‘Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas’. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 hanya sebesar 14%. Untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7% per tahun, dan ini masih menjadi pekerjaan rumah kita semua Mums.

 

Banyak upaya dilakukan untuk mencegah stunting, atau kondisi kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan perawakan pendek dan perkembangan kecerdasan anak pun ikut terdampak. Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin mendorong pemberian ASI eksklusif 6 bulan, dan akan meningkatkan edukasi mengenai kecukupan gizi untuk makanan pendamping ASI (MPASI) terutama protein hewani.

 

Kenapa protein hewani? Ternyata kunci dari pencegahan stunting ini ada di protein hewani.

 

Baca juga: Awas, Kasus Stunting Bisa Bertambah Saat Pandemi Covid-19
 

Peran Penting Protein Hewani Cegah Stunting

Guru besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat sekaligus wakil ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesheatan (PKGK) FKMUI, menjelaskan dalam Webinar Hari Gizi Nasional 2022 yang diselenggarakan Frisian Flag Indonesia, Selasa (25/1), bahwa konsumsi protein hewani di Indonesia masih rendah.

 

“Penyebabnya antara lain pengetahuan gizi dan pendidikan ibu yang rendah, atau ibu kurang berdaya di keluarga. Penyebab lainnya adalah pantangan makanan. Pada sebagian keluarga, protein hewani masih terlalu mahal dan tidak terjangkau,” jelas Prof. Fika.

 

Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar (87,0%) anak-anak usia 6-59 bulan mengonsumsi biji-bijian, seperti seperti nasi dan roti, sedangkan konsumsi telur, kacang-kacangan dan sumber hewani rendah.

 

Padahal, makanan sumber hewani seperti daging, susu dan telur memiliki variasi zat gizi makro dan mikro yang cukup protein, vit A, vit B-12, riboflavin, kalsium, zat besi dan seng yang sulit didapat dalam jumlah cukup dari makanan nabati.

 

Mum perlu tahu, bahwa protein adalah senyawa kimia yang terdiri atas asam-asam amino yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur bagi tubuh. Tubuh membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino. Sembilan di antaranya adalah asam amino esensial (AAE) dan sisanya adalah asam amino non esensial.

 

“Asam amino esensial harus didapatkan dari makanan, sedangkan asam amino non-esensial bisa diproduksi sendiri oleh tubuh kita. Protein hewani memiliki asam amino esensial yang lebih lengkap dan lebih banyak dibandingkan protein nabati. Selain itu pangan hewani juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang beragam dan kaya serta kualitasnya lebih baik dibandingkan pangan nabati,” papar Prof. Fika.

 

 

Baca juga: Bukan Daging Merah, Inilah Protein Hewani Terbaik Agar Anak Tinggi!

 

Dampak Kekurangan Protein Hewani

Lebih lanjut Prof. Fika menjelaskan bahwa tubuh yang kekurangan asupan protein hewani akan mengalami gangguan berkurangnya fungsi hormonal, gangguan regenerasi sel, sistem kekebalan tubuh dan massa otot.

 

“Bila kekurangan protein berlanjut maka akan berdampak pada kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan seperti terhambatnya pertumbuhan fisik yang dapat menyebabkan stunting dan gangguan kognitif,” tegas Prof. Fika.

 

Anak yang asupan energi dan proteinnya kurang dari yang dianjurkan berisiko 6 kali dan 4 kali lebih besar untuk stunting daripada anak-anak yang asupannya cukup. Jadi, asupan makronutrien termasuk protein ini penting dan harus dikonsumsi dalam jumlah yang cukup setiap hari untuk mencegah stunting.

 

Sumber protein hewani tidak harus mahal. Sebutir telur dan susu sudah cukup memenuhi kebutuhan protein hewani pada anak. Keduanya murah dan mudah didapatkan. “Susu merupakan sumber zat gizi yang lengkap karena mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, dan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” jelas Prof. Fika.

 

Susu bermanfaat membantu tubuh membangun jaringan otot dan tulang ketika berada dalam fase pemulihan setelah berolahraga atau sakit. Selain itu, susu mengandung hormon yang merangsang faktor pertumbuhan yaitu IGF-1 yang memfasilitasi pertumbuhan dengan meningkatkan penyerapan asam amino, yang terintegrasi menjadi protein baru di jaringan tulang.

 

Satu lagi keuggulan susu dibandingkan sumber protein hewani lain adalah susu memiliki DIASS atau skor cerna protein lebih tinggi dibandingkan jenis makanan lain seperti misalnya daging, ikan, atau kedelai.  Artinya susu dapat dicerna dan diserap lebih mudah dalam usus manusia dibandingkan makanan lainnya, dan ini bermanfaat untuk membangun sel jaringan dan sistem kekebalan tubuh.

 

Nah Mums, tidak ada alasan untuk menghindari protein hewani dengan alasan mahal. Berikan ASI ekslusif selama 6 bulan lanjutkan dengan MPASI dengan menu seimbang dan pastikan selalu ada sumber protein hewani. Di masa pertumbuhan ini, berikan si Kecil segelas hingga dua gelas susu untuk mendukung tumbuh kembangnya!

 

Baca juga: 5 Cara Cegah Stunting Sejak Awal Kehamilan

 

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.