Menu
Informasi tentang Kesehatan

Tips Sukses Memberikan ASI Sejak Awal Kelahiran Bayi

  • Bagikan

Tidak diragukan lagi, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui atau memberikan ASI ekslusive selama 6 bulan pertama kehidupan bayi terbukti memiliki banyak manfaat bagi Mums dan bayinya. Menurut WHO, menyusui memberikan perlindungan utama pada bayi dan anak dari penyakit menular sebagai penyebab umum kematian.

Dalam webinar bertema “Menyusui Bebas Drama di Hari-hari Awal si Kecil”, yang diselenggerakan Good Doctor, dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), konselor laktasi menjelaskan, “Menyusui merupakan suatu proses yang alami, tetapi untuk berhasil menyusui dengan tenang dan nyaman membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kemauan yang kuat. Akan lebih baik apabila pada masa kehamilan ibu sudah memiliki pengetahuan tentang menyusui sehingga tidak kaget ataupun tidak panik saat mengalami tantangan. Agar menyusui berhasil, bukan hanya ibu yang perlu mempunyai ilmu dan kesiapan mental. Ibu perlu didukung oleh seluruh support system dalam keluarga, mulai dari suami, baby sitter, orang tua atau mertua.”

Benar Mums, di hari-hari pertama mengASIhi, Mums mungkin akan menemukan banyak kendala. Sehingga penting untuk memperoleh informasi dan keterampilan yang tepat mengenai cara menyusui yang benar.

Nah, agar proses awal menyusui berjalan lancar dan tanpa stres atau drama, ikuti tips dari dr. Ayudya ya Mums!

Baca juga: Busui Positif Covid, Apakah ASI-nya Mengandung Virus Covid-19?

Fakta Seputar Menyusui yang Perlu Mums Tahu

Inilah beberapa hal penting yang harus dipahami Mums dan keluarga dalam mempersiapkan proses mengASIhi:

Pertama, hampir seluruh wanita memiliki kelenjar susu dan bisa memproduksi ASI (kecuali memiliki kondisi medis tertentu dan itu pun jarang terjadi). Biasanya payudara sudah siap untuk memproduksi ASI sejak minggu ke-16 masa kehamilan.

Kedua, ASI diproduksi secara bertahap. Wajar apabila pada empat hari pertama ASI yang keluar hanya sedikit. Hal ini juga berhubungan dengan kapasitas lambung bayi yang baru 10 ml. Jika selama 2—3 hari pertama setelah bayi lahir, ibu tidak dapat menyusui, ibu tidak perlu khawatir karena bayi masih memiliki cadangan makanan di dalam tubuhnya.

Ketiga, ASI diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayi (supply and demand). Bagi ibu yang bekerja, tetap perlu memompa secara teratur saat tidak bersama bayi. Payudara harus benar-benar dikosongkan agar ASI terus berproduksi. Ketika payudara benar-benar kosong, sel-sel payudara akan mengirimkan sinyal ke sel-sel otak untuk memproduksi ASI kembali karena bayi akan segera menyusu.

Sel-sel otak akan merespons sehingga ketika bayi akan minum ASI, produksi ASI sudah tersedia. Tubuh akan mengikuti ritme bayi minum susu. Jadi, jika bayi terbiasa minum setiap dua jam, tubuh akan mengikuti ritme itu untuk memproduksi ASI saat payudara benar-benar kosong.

Keempat, produksi ASI sama sekali tidak berhubungan dengan ukuran payudara dan ukuran tubuh ibu.

Kelima, kondisi emosional dan asupan gizi ibu mempengaruhi produksi ASI.

Keenam, penggunaan botol atau dot dapat menyebabkan bingung puting dan mengganggu proses menyusui. Bagi ibu bekerja, pemberian ASI dengan cup feeder, sendok, spuit, pipet medis, dan spoon feeder lebih disarankan dibandingkan dengan memberi dot kepada bayi.

Baca juga: Bingung Puting pada Bayi, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Tips Sukses Memberikan ASI Sejak Hari-hari Awal Kelahiran Bayi

Menyusui pertama kali sebenarnya dimulai dari proses inisiasi menyusui dini (IMD). Menurut dr. Ayudya, banyak manfaat yang diperoleh dari proses IMD yang optimal, antara lain:

  1. Kontak kulit antara ibu dan bayi dapat mengatur suhu tubuh bayi dan memperkuat ikatan di antara mereka.
  2. Gerakan bayi saat berpijak dan menendang perut ibu dapat menstimulasi kontraksi rahim.
  3. Saat bayi bergerak mencari aerola, gerakan membenturkan kepala ke payudara menyerupai pijatan untuk menstimulasi payudara.
  4. Bayi memperoleh kolostrum yang sangat baik untuk imunitas bayi.
  5. Awal pemantapan proses menyusui.

“Di hari-hari awal setelah melahirkan, ibu sebaiknya fokus untuk membuat bonding dengan bayi, belajar untuk menyusui, belajar menggendong bayi, dan belajar mencari posisi yang nyaman untuk ibu dan bayi,” ujar dr. Ayudya.

Pengetahuan yang juga perlu diketahui ibu agar berhasil menyusui adalah perlekatan dan posisi menyusui. “Kalau perlekatannya benar, ibu tidak akan merasa nyeri. Kalau ibu merasa sakit berarti ada yang salah karena kalau perlekatan sudah benar, ibu tidak akan merasa sakit,” tambahnya.

Saat akan menyusui, sebagian areola (sekitar 2 cm apabila aerolanya besar) atau seluruh aerola dimasukkan ke mulut bayi ketika mulut bayi sudah terbuka lebar. Apabila hanya puting yang masuk ke mulut bayi, ibu akan merasa sakit dan ASI yang keluar sedikit. Akibatnya, bayi menyusu jadi lebih lama, bayi menjadi kesal bahkan mungkin jadi malas menyusu.

ASI yang keluar hanya sedikit-sedikit dapat mengurangi produksi ASI. Selain itu, ibu harus dalam posisi nyaman sebelum bayi mengikuti posisi ibu. Jadi, bukan badan ibu yang mengikuti badan bayi karena ibu akan merasa pegal. Apabila belum terbiasa menyusui, ibu bisa dibantu oleh suami atau baby sitter atau anggota keluarga yang lain untuk menggendong bayi dulu. Setelah ibu merasa posisinya nyaman barulah bayi diberikan kepada ibu untuk disusui.”

Head of Medical PT Good Doctor Technology Indonesia, dr. Adhiatma Gunawan mengatakan, cukup banyak ibu baru yang berkonsultasi secara online seputar menyusui. “Data internal kami menunjukkan selalu ada berbagai topik terkait menyusui yang dikonsultasikan, beberapa contohnya adalah cara memompa dan menyimpan ASI. Edukasi rutin menyusui ini merupakan bagian dari program Good Parents Club kami yang sejalan dengan komitmen kami dalam memberikan edukasi kesehatan yang berkualitas kepada pengguna kami,” jelas dr. Adhiatma.

Baca juga: Kenapa Ya ASI Enggak Keluar Pasca Melahirkan?

Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.