Menu
Informasi tentang Kesehatan

Vaginosis Bakterialis Berbahaya bagi Kehamilan

  • Bagikan

 

Salah satu infeksi yang cukup umum terjadi selama kehamilan adalah vaginosis bakterialis. Seperti namanya, infeksi ini disebabkan oleh bakteri dan memengaruhi sekitar 1 juta wanita hamil setiap tahunnya. Vaginosis bakterialis merupakan infeksi ringan dan mudah diobati dengan obat-obatan. Namun, jika tidak diobati, infeksi dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual dan komplikasi selama kehamilan.

 

Baca juga: Ibu Hamil, Waspada Infeksi TORCH
 

Penyebab Vaginosis Bakterialis

Vaginosis bakterialis merupakan hasil pertumbuhan bakteri tertentu yang berlebihan di vagina. Perlu diketahui dulu bahwa sama halnya dengan mulut dan usus, vagina juga sebenarnya memiliki ekosistem pertumbuhan bakteri di dalamnya. Kebanyakan dari bakteri ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri lain yang dapat menyebabkan penyakit. Di vagina sendiri, bakteri yang dimaksud tersebut adalah bakteri Lactobacilli. Sementara, bakteri penyebab infeksi disebut dengan bakteri anaerob.

 

Normalnya, Lactobacilli dan anaerob berkembang dalam jumlah yang seimbang. Kondisi ini dikontrol sepenuhnya oleh Lactobacilli. Namun, jika Lactobacilli berkurang jumlahnya, maka anaerob memiliki kesempatan untuk berkembang lebih banyak. Ketika pertumbuhan bakteri anaerob ini terjadi secara berlebihan, maka terjadinya kondisi vaginosis bakterialis.

 

Penyebab ketidakseimbangan pertumbuhan jumlah bakteri anaerob ini belum dapat dipastikan. Namun, ahli memperkirakan ada beberapa faktor yang dapat memicunya, antara lain:

– Kebiasaan douching atau mencuci vagina dengan cairan berbahan kimia

– Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman

– Memiliki banyak pasangan seks

– Menggunakan antibiotik

– Menggunakan pengobatan untuk vagina

– Kehamilan

 

Pengaruh Vaginosis Bakterialis Terhadap Kehamilan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa terdapat sekitar 1 juta wanita hamil yang mengalami vaginosis bakterialis setiap tahunnya. Wanita hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini karena adanya perubahan hormon yang terjadi secara signifikan.

 

Vaginosis bakterialis yang terjadi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi terlahir secara prematur dan juga berat lahir yang rendah. Kelahiran prematur tentu membuat bayi juga berpotensi mengalami beberapa masalah kesehatan.

 

Selain itu, vaginosis bakterialis juga dapat menyebabkan penyakit radang panggul atau disebut juga dengan PID (Pelvic Inflammatory Diseases). PID adalah infeksi pada rahim yang dapat meningkatkan risiko kemandulan.

 

Baca juga: Bagaimana Ibu Hamil Bisa Terkena Infeksi Saluran Kemih?
 

Gejala Vaginosis Bakterialis

Sekitar 50-75% wanita dengan vaginosis bakterialis tidak mengalami gejala apa pun. Namun, secara umum gejala vaginosis bakterialis yang dapat dikenali adalah munculnya keputihan yang sudah tidak normal seperti berwarna abu-abu dan berbau busuk.

 

Dalam beberapa kasus, keputihan yang muncul juga bisa berbusa. Gejala ini biasanya juga disertai dengan adanya sensasi terbakar saat buang air kecil, gatal di area luar vagina, serta nyeri saat berhubungan seks.

 

Apakah Vaginosis Bakterialis Selama Kehamilan dapat Diobati?

Antibiotik dikenal sebagai pengobatan untuk mengatasi masalah bakteri. Namun, di sisi lain, penggunaan antibiotik juga dapat membunuh bakteri baik yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% wanita yang dirawat karena vaginosis bakterialis lebih mungkin mengalami kekambuhan dalam waktu 12 bulan karena pemberian antibiotik. Maka itu, penggunaan antibiotik untuk kondisi ini dilakukan benar-benar hanya jika diperlukan.

 

Karena penggunaan antibiotik dinilai tidak terlalu efektif dalam mengatasi hal ini, maka upaya selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan membantu mengembalikan jumlah bakteri baik di area vagina. Proses ini ditempuh dengan cara penggunaan probiotik vagina dengan dosis mikronutrien yang tepat. Jadi, konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaannya, ya.

 

Ibu hamil memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami vaginosis bakterialis akibat perubahan hormon. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari kondisi ini adalah dengan melakukan langkah pencegahan. Hindari menggunakan cairan tertentu yang dapat mengganggu ekosistem alami dari bakteri baik di vagina. Pastikan juga untuk menjaga kebersihan area vagina serta tidak melakukan hubungan seks yang berisiko. (BAG)

 

Baca juga: Bahaya Infeksi Toksoplasma pada Ibu Hamil
 

 

Referensi

American Pregnancy Association. “Bacterial Vaginosis During Pregnancy”.

Healthline. “Bacterial Vaginosis Is Extremely Common — Here’s What You Need to Know”.

 

 

 

 

 

 



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.