Menu
Informasi tentang Kesehatan

Waspada, Anak-anak Juga Bisa Terkena Infeksi Saluran Kemih

  • Bagikan

Si Kecil terlihat ingin buang air kecil daripada biasanya? Banyak faktor yang bisa mendasari kondisi ini, termasuk infeksi saluran kemih (ISK). Yuk, simak pembahasannya di sini.

 

Anak-anak Juga Bisa Terkena Infeksi Saluran Kemih

Di masa kehamilan, infeksi saluran kemih menjadi permasalahan yang umum terjadi. Tapi jangan salah, bayi dan anak-anak pun rentan sekali dengan infeksi ini. Menurut data, 8 dari 100 anak perempuan dan 2 dari 100 anak laki-laki akan terkena ISK. 

 

Saluran kemih adalah organ dalam tubuh yang membuat, menyimpan, dan membuang urine, salah satu produk limbah tubuh. Urine dibuat di ginjal dan mengalir ke kandung kemih melalui ureter (tabung yang menghubungkannya). Ginjal membuat sekitar 1,5 sampai 2 liter urine sehari pada orang dewasa, dan lebih sedikit pada anak-anak, tergantung usia. Pada anak-anak, kandung kemih dapat menampung 30-40 ml urine untuk setiap usia tahun. Misalnya, kandung kemih anak berusia 4 tahun dapat menampung hingga 120 ml, atau kurang lebih satu cangkir.

 

Kandung kemih menyimpan urine sampai dikosongkan melalui uretra (tabung yang menghubungkan kandung kemih ke kulit) saat buang air kecil. Uretra terbuka di ujung penis pada anak laki-laki dan di depan vagina pada anak perempuan.

 

Sementara, ginjal berperan untuk menyeimbangkan beragam kadar bahan kimia dalam tubuh, seperti natrium, kalium, kalsium, fosfor, dan lain-lain, serta memeriksa keasaman darah. Hormon tertentu juga dibuat di ginjal. Hormon-hormon ini membantu mengontrol tekanan darah, meningkatkan produksi sel darah merah, dan membantu membuat tulang kuat.

 

Urine yang normal bersifat steril dan tidak mengandung bakteri. Tetapi, bakteri yang ada di permukaan kulit dan ditemukan dalam jumlah besar di daerah dubur dan di tinja, sangat mungkin berpindah ke urine melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Ketika ini terjadi dan tubuh tidak berhasil menyingkirkan bakteri, mikroorganisme tersebut lalu berkembang biak dan dapat menyebabkan infeksi. Di sinilah ISK terjadi, yaitu ketika bakteri masuk ke urine dan naik ke kandung kemih atau ginjal.

 

Perlu Mums ketahui ada 2 tipe dasar ISK, yaitu:

Bila infeksi berada di kandung kemih, dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri pada kandung kemih. Ini disebut sistitis.

 

Jika bakteri naik dari kandung kemih melalui ureter, lalu mencapai dan menginfeksi ginjal, maka disebut infeksi ginjal atau pielonefritis. Infeksi ginjal lebih serius daripada infeksi kandung kemih, dan dapat membahayakan ginjal, terutama pada anak kecil. Faktanya, bayi dan balita berisiko lebih besar mengalami kerusakan ginjal jika terkena ISK, daripada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa.

 

Baca juga: Penelitian: Semakin Tinggi Asupan Vitamin D Ibu Hamil, Semakin Tinggi Skor IQ Anak

 

Gejala Infeksi Saluran Kemih

Pada anak-anak, sebagian besar ISK terjadi di bagian bawah saluran kemih, yaitu di uretra dan kandung kemih. Jenis ISK ini disebut sistitis. Seorang anak dengan sistitis umumnya memperlihatkan gejala sebagai berikut:

  • Merasa sakit, terbakar, atau sensasi menyengat saat buang air kecil.
  • Lebih sering buang air kecil dan biasanya hanya sedikit buang air kecil yang dapat dikeluarkan.
  • Demam.
  • Sering terbangun di malam hari untuk ke kamar mandi.
  • Mengompol, meskipun si Kecil sebelumnya sudah tidak mengompol lagi.
  • Mengeluh sakit perut di area kandung kemih (umumnya di bawah pusar).
  • Urine berbau busuk yang mungkin terlihat keruh atau mengandung darah.

 

Sementara jika infeksi yang menjalar ke ureter ke ginjal (pielonefritis) dan berdampak lebih serius, akan menyebabkan banyak gejala yang sama. Walau begitu, anak juga bisa memperlihatkan gejala tambahan seperti:

  • Terlihat lebih sakit.
  • Demam (kadang-kadang dengan menggigil kedinginan).
  • Nyeri di samping atau punggung.
  • Sangat kelelahan parah.
  • Muntah.

 

Baca juga: Deteksi Jabang Janin, Apa Artinya?

 

 

Apa Penyebab Infeksi Saluran Kemih?

ISK lebih sering terjadi pada anak perempuan karena uretra anak perempuan lebih pendek dan lebih dekat ke anus sebagai tempat keluarnya kotoran. Sedangkan pada anak laki-laki yang tidak disunat di bawah 1 tahun, juga memiliki risiko ISK yang sedikit lebih tinggi.

 

Faktor risiko lain pada ISK meliputi:

  • Masalah pada saluran kemih (misalnya, ginjal yang cacat atau penyumbatan di suatu tempat di sepanjang saluran aliran urine normal).
  • Aliran balik urine dari kandung kemih ke ureter dan menuju ginjal abnormal (refluks). Ini dikenal sebagai refluks vesikoureteral (VUR), dan banyak anak dengan ISK ditemukan memilikinya.
  • Kebiasaan kebersihan yang buruk.
  • Riwayat keluarga ISK.

 

Kabar baiknya, ISK mudah diobati, tapi tidak dapat sembuh dengan sendiri. Makanya, penting untuk mengetahuinya lebih awal, karena ISK yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

 

Pengobatan ISK memerlukan antibiotik selama 5 hari dan kebanyakan ISK sembuh dalam waktu seminggu. Setelah beberapa hari antibiotik, dokter akan menginstruksikan tes urine ulang untuk memastikan bahwa infeksi hilang. Langkah ini penting, karena ISK yang tidak diobati dengan sempurna dapat kembali atau menyebar.

 

Jika si Kecil mengalami sakit parah saat buang air kecil, dokter bisa pula meresepkan obat yang mematikan lapisan saluran kemih. Obat ini sementara menyebabkan urine berubah menjadi oranye.

 

Selama masa pengobatan, ada beberapa hal yang penting dilakukan, yaitu:

  • Berikan antibiotik yang diresepkan sesuai jadwal sesuai dengan jumlah hari yang sudah ditentukan oleh dokter.
  • Pantau si Kecil setiap buang air kecil atau besar. Tanyakan juga apakah masih merasakan gejala seperti rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil. Gejala-gejala ini umumnya akan membaik dalam 2 sampai 3 hari setelah antibiotik dimulai.
  • Dorong anak untuk minum banyak cairan, tetapi hindari minuman yang mengandung kafein seperti soda atau teh, karena dapat mengiritasi kandung kemih.(IS)

 

Baca juga: Apa ya, yang Anak Rasakan saat Melihat Ibunya Menangis?

 

Referensi:

Kids Health. Urinary Tract Infections

NIH. Bladder Infection

Urology Care Foundation. UTI in Children

First Cry Parenting. UTI



Dapatkan Informasi lengkap nya Disini Sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.